Cerita Melahirkan Anak Pertama di Belanda

Aku selalu tertarik mendengarkan bagaimana seorang Ibu menjalani proses persalinan hingga melahirkan anaknya ke dunia. Semua ceritanya selalu menaik buatku. Kenapa? karena setiap persalinan memiliki keunikan dan tantangan tersendiri. Termasuk cerita dan proses persalinanku di Belanda tahun 2017 lalu.

Cerita kehamilan dan persalinan anak pertamaku terjadi di Belanda, dan momen ini bertepatan dengan keharusanku menyelesaikan kuliah S2ku di Belanda. Due date persalinanku diprediksi di tanggal 26 September 2017, sedangkan saat itu aku masih juga belum menyelesaikan master thesisku. Ketiga dosen pemimbing Tugas Akhirku memintaku untuk bisa menyelenggarakan sidang kelulusan sebelum due date persalinan, mungkin di sekitar tanggal 18-19 September 2017, dengan harapan, aku tidak perlu lagi berurusan dengan Tugas Akhir setelah melahirkan. Sebetulnya, aku agak sedikit ragu, apakah bisa dengan umur kehamilan yang semakin besar dan mendekati due date aku masih bisa datang ke kampus dan menghadapi sidang kelulusan.

Pertama, badan sudah semakin berat dan mudah lelah. Kedua, sebetulnya agak kuatir ketika aku harus melakukan perjalanan jauh, saat hamil trimester ketiga aku sudah pindah ke kota Utrecht, sedangkan kampusku ada di kota Delft, dengan total perjalanan yang aku tempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan kereta dan bis umum. Ketiga, bagaimana kalau tiba-tiba saat aku sidang … terjadi kontraksi? nggaa lucuuu kannn?

Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap membuat jadwal sidang kelulusan di tanggal 18 September 2017, dengan catatan, jadwal ini dapat dibatalkan jika aku harus menempuh proses persalinan. Mendekati tanggal sidang (dan tanggal prediksi persalinan), aku semakin stres dan anxious! Sempat juga mimpi, ditengah-tengah sidang aku meminta izin dosen pembimbing dan dosen penguji untuk menghentikan sidang karena perutku berkontraksi dan harus ke rumah sakit…..nope, it’s not funny at all kalau ini sampai terjadi.

Dan…Kontraksi itu pun dimulai

Kehamilan ini merupakan kehamilan anak pertamaku. Jelas, aku ga tau gimana rasanya kontraksi. Yes, aku sudah baca beberapa buku tentang kehamilan dan proses persalinan, and yes, aku sudah bertanya kepada bidan yang merawat kehamilanku dan juga beberapa teman yang sudah melalui proses persalinan. Tapi…. namanya pengalaman pertama, tentu masih bingung gimana rasanya kontraksi beneran ketika menjelang proses persalinan. Ada yang bilang seperti nyeri haid, ada yang bilang mules seperti mau poop…..

Jadi gimana cerita dan rasanya kontraksi mau melahirkan?

well…. menurutku rasanya lebih tepat mendekatinyeri haid tapi beberapa kali lipat lebih sakit, ditambah pegal dan nyeri dibagian pinggul belakang.

Minggu, 17 September 2017.

Hari minggu, adalah hari dimana aku berbelanja kebutuhan rumah. Entah mengapa, saat belanja, aku berpikir untuk membeli beberapa makanan yang aku persiapkan untuk proses persalinan nanti. Buah-buahan kesukaan, jus buah, minuman manis berenergi, dan juga makanan-makanan lain ala Belanda yang mudah sekali dibuat akak sandwich, keju dan salami sapi/ayam.

Malam harinya, aku merasa pegal dan linu di bagian pinggul belakang dan juga nyeri haid dibagian bawah perut. OH NO! Apakah ini sebuah pertanda? Apakah ini kontraksi beneran atau kontraksi semu? Karena kami tidak yakin dan belum bisa memutuskan sendiri, akhirnya kami menelepon bidan untuk menanyakan bagaimana dan apa yang sebaiknya kami lakukan.

Menurut bidan kami, ini bisa saja kontraksi semu ataupun kontraksi betulan. Kami disarankan untuk menghitung lama durasi kontraksi dan lama jeda antar kontraksi, jika semakin sering atau dibawah 1 menit, kami bisa menelepon bidan kembali.

Malam itu……. aku dan suamiku, Arya, tidak tidur. Aku menghabiskan malam di bath tub dengan berendam air hangat untuk mengurangi rasa sakit. Arya pun dengan sabar menyediakan makanan dan minuman agar aku tidak kehabisan energi. Kami mencoba mempraktekkan ilmu hynobirthing dari kursus pre-natal yang kami ikuti, tapi… teori hanyalah teori hahahaha…yang aku rasakan hanya ngilu dan lapar. Malam itu, kami terjaga.

Senin Pagi, 18 September 2017

Pagi harinya, kami memutuskan untuk menelepon bidan. Jam 9 pagi, seorang bidan datang ke rumah kami untuk mengecek seberapa jauh pembukaan jalur persalinanku. and guess what? udah semaleman sakit dan ngga tidur, ternyata baru bukaan dua, DUA, YES CUMA 2. 😦

Waktu mendengar hal itu, aku rasanya mau nangis aja. Untuk melalui proses persalinan, bukaan itu harus SEPULUH, dan aku baru di DUA! udah semaleman ga tidur dan menahan rasa sakit…. ternyata baru DUA bukaan… demotivated banget ga sih? Arya pun menunjukkan muka yang agak sedikit kecewa dan bingung. Tapi, kami pasrah, mau gimana lagi kan? Akhirnya Bidan menyarankan untuk menelepon kembali jam 7 malam apabila kontraksi menjadi semakin sering atau rasa sakit sudah tidak tertahankan lagi.

Pagi itu juga, aku mengirimkan emial ke dosen pembimbing dan pengujiku untuk membatalkan jadwal sidang dan menundanya di tanggal yang kita sepakati bersama setelah proses persalinanku selesai. Akhirnya, kami melewati hari itu dengan tetap terjaga, berendam dan juga makan di bath tub, serta Arya yang memijati pinggul dan punggungku.

Senin Malam, 18 September 2017

Pukul 19.00 CET, kami memutuskan untuk menelpon bidan kembali karena sakit yang tak kunjung usai. Seorang bidan datang ke rumah kami untuk memeriksa kondisi kesehatan dan mental kami. Bidan menyatakan bahwa bukaanku masih di…. TIGA! yes… cuma naik 1 ajaaaah setelah sepanjang hari menahan rasa sakit.

Akhirnya, bidan menyarankan kami untuk pergi ke rumah sakit dan melakukan persalinan disana karena kondisi fisik kami yang sudah sangat kelelahan. Bidan takut jika kami berdua terlalu lelah, terutama jika aku kelelahan, saat proses persalinan berlangsung, aku sudah tidak memliki tenaga untuk mendorong bayiku keluar.

Akhirnya, dengan ikhlas kami pergi ke rumah sakit dan membatalkan rencana persalinan pertama kami yaitu melakukan persalinan di rumah dengan metode waterbirth di ruang tamu kami sendiri.

Perubahan Rencana…

Malam itu kami (aku, Arya, dan bidan yang merawatku), sepakat untuk merubah rencana persalinan kami. Bidan yang merawatku menyarankan untuk melakukan persalinan di rumah sakit dibawah kondisi obat bius supaya bisa beristirahat sebentar sebelum ‘waktunya tiba’. Kami pun setuju.

Aku dan Arya memang tidak punya mobil dan sudah berencana menelepon taxi jika memang diperlukan. Tapi ternyata, bidan kami baik sekali! Kami pergi ke rumah sakit dengan mengendari mobil pribadinya. Cepat-cepat kami mengambil koper yang sudah kami kemas dengan barang-barang yang kami siapkan dan langsung beranjak pergi.

Sampai di rumah sakit, rasa nyeri dan ngilu semakin berasa, ternyata, pembukaan sudah LIMA! …. half way to go. Akhirnya, sesuai dengan rencana persalinan kami mengenai obat bius, kami sepakat untuk menggunakan bius epidural. Tapi…. dokter anestesinya PENUH dan bius hanya bisa diberikan oleh dokter anestesi.

Hampir 1 jam aku menunggu dan kesakitan, sampai akhirnya dokter anestesipun datang dan memberikan bius epidural. What a RELIEVE! Bius epidural benar-benar mengurangi rasa sakit di pinggul dan perut bagian bawah, tapi…. memang beberapa alat dan kabel pemantau harus dipasang dibadanku untuk memantau kontraksi dan hal-hal lain di tubuhku. Kenapa? karena bius epidural membuat tubuh setengah lumpuh. Obat bius ini juga memberikan waktu untuk aku berisitrahat sejenak hingga ‘waktunya tiba’. Bidan yang baik hati pun menyiapkan sofa bed untuk Arya supaya Arya juga bisa tidur dan siap untuk membantu proses persalinan nanti.

Sekitar jam 2.30 pagi aku terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku meminta Arya untuk memanggil bidan supaya menyuntikkan bius epidural lagi. Bidan memanggil dokter anestesi dan dokter itu datang setelah sekitar 30 menit kami menunggu. Sekitar jam 3 pagi, saat dokter anestesi datang, bidan mengecek pembukaan jalan lahir lagi, dan ternyataa…. sudah pembukaan 9!!

WAH PANTES… SAKIT…

Akhirnya bius epidural pun batal disuntikan dan kami langsung masuk ke proses persalinan.

Akhirnya….Lahir juga..

Bukaan 10, LENGKAP! rasanya seperti apa? Mules, mau poop. Bidan belum juga stand by karena rumah sakit malam itu penuh, sepertinya pada bidan juga seidkit kualahan menangani pasien. Aku sudah tidak tahan lagi, rasanya mules sekali dan seperti mau poop.

You know what’s interesting? karena sudah sangat sakit, aku sudah tidak bisa lagi berkomunikasi dengan bahasa inggris dengan para dokter dan bidan hahahaha jadilah Arya yang juga sudah panik, harus menerjemahkan semua kata-kataku ke para tenaga medis. Ternyatat memang lumayan susah loh, kalau dibawah tekanan dan kesakitan kita harus berbicara bahasa lain.

Akhirnya, sekitar 2 kali mengejan saja, selama 10 menit, dia lahir di pukul 4.22 CET.

agak syok, dan tidak percaya ada seorang manusia lain yang kecil mungil keluar dari badanku. Bidan langsung menyerahkan si kecil padaku dan kami memulai momen menyusui pertama kami. Lucu, dan Indah. Karena si bayi mengendus dan mencari-cair puting susuku.

Lalu, kami bingung karena tiba-tiba bidan menanyakan siapa nama anak kami……….karena belum ada namanya, kami meminta untuk dituliskan sebagai Dochter Iwantoro (anaknya Iwantoro – nama keluarga Arya hahahaha). Sebetulnya ada beberapa pilihan nama, cuma ya…. masih bingung. Kami diberikan waktu hingga sebelum dokumen dari rumah sakit selesai untuk memutuskan siapa nama anak kami.

Proses selanjutnya adalah menjahit jalan lahir yang terbuka and … here it goes another drama dimana bidan / perawat melakukan penjaitan di tempat yang BELUM DIBIUS, YA SAKIT DONGGGG! 😦 setelahnya aku disuntik morfin… iya morfin untuk bius, and nope bukan seperti bius morfin yang ada di film-film yang membuat pasien ngomongnya melantur sih. Efek morfin hanya meredakan rasa sakit dan membuat mengantuk.

Normalnya, setelah melahirkan, ibu dan anak tidak perlu berlama-lama di rumah sakit, bisa langsung pulang. Tapi, anak kami lahir dengan kondisi suhu tubuh lebih rendah daripada bayi normal sehingga harus diinkubasi dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut hingga siang hari. Kami pun dipindahkan ke ruang perawatan untuk diberikan sarapan dan beristirahat sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari dokter.

Sekitar jam 1 siang perawat datang dengan makan siang dan lagi-lagi menanyakan nama anak kami. Akhirnya kami memutuskan nama anak kami:

Malahayati Arungbhumi Iwantoro.

Malahayati, diambil dari bahasa arab yang berarti pemimpin kehidupan. Kami ambil nama Malahayati dari Keumalahayati yang merupakan pejuang wanita dari Aceh yang merupakan laksamana angkatan laut wanita pertama di dunia. Keumalahayati berhasil mengalahkan belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Nama yang sangat kuat untuk anak yang lahir di Belanda.

Arungbhumi, penjelajah dunia

Iwantoro, nama keluarga supaya nanti kalau anak kami kuliah di luar negeri tidak perlu bingung menuliskan first nam dan last name, seperti mamanya sekarang hehe

Setelah pemeriksaan selesai, sekitar jam 15.00 CET, Kami diizinkan untuk pulang ke rumah. CEPET BANGET YAH? nope, kalau di Belanda, ini sudah termasuk lama banget…. hahaha beda banget yah sama di Indonesia?

Kami pulang ke rumah dengan menggunakan taxi dan memulai fasa kehidupan kami yang baru sebagai Mama dan Papa dari Mala.

Susah-Senang Melahirkan di Belanda

Jadi, gimana kesannya melahirkan di Belanda? senang tidak melahirkan di Belanda?

Capek sih….

Walaupun terkesan sendirian dan lebih ribet, tapi aku senang dengan setiap proses pemeriksaan kehamilan hingga proses persalinan yang runut dan sesuai dengan rencana, baik itu best and worst scenario yang telah kami sepakati bersama. Aku juga sangat membatasi orang-orang yang ada di dalam ruang persalinanku, hanya ada suami dan tenaga medis yang berurusan dengan proses persalinanku yang ada di dalam ruangan. Kemana Ibuku?

Aku memang sengaja memberikan jeda kepada orang-orang dengan niat baik untuk membantu proses persalinanku untuk datang di kemudian hari. Bukan pada saat proses persalianan. Kenapa? Ya aku memilih untuk seperti itu 🙂

Setelah proses persalinan selesai, ada seorang perawat yang akan mengajarkan kami untuk mengurus anak dengan baik berdasarkan dengan ilmu pengetahuan (yup, bukan mitors-mitos yang berkembang di masyarakat dari generasi masa lalu). Dengan begini, kami memiliki bekal yang cukup banyak untuk mengurus anak kami, tanpa takut dengan mitos-,mitos yang sering kali beredar di kalangan masyarakat Indonesia. Hidup… terasa sedikit lebih mudah tanpa adanya komentar dari ornag-orang yang mungkin bahkan kita tidak kenal dekat.

Di Belanda, semua orang menghargai keputusan Ibu, mulai dari metode persalinan, keputusan untuk memberikan ASI ataupun susu formula, pemasangan KB, dll tanpa ada pandangan ‘judgemental’ dari masyarakat. Kalau Ibu memutuskan untuk memberikan ASI, itu bagus sekali, tapi kalau tidak, juga tidak apa-apa, ada alternatif susu formula. Toh alasan Ibu memberikan susu formula ke anaknya itu ada banyak sekali… bukan berarti Ibu itu tidak mau memberikan ASI lho, bisa jadi memang ada permasalahan tertentu sehingga Ibu TIDAK BISA memberikan ASI. Bukan hak kita untuk menghakimi keputusan Ibu lain bukan?

Lalu, kenapa fotonya sedikit? sebetulnya kami sudah mempersiapkan kamera, tapi berhubung sudah ribet sama urusan bius dan proses persalinan, ditambah lagi Arya yang super takut sama darah, pada akhirnya, kami gagal mendokumentasikan sebagian besar proses persalinan kami. Hanya beberapa foto instax yang berhasil kami ambil setelah proses persalinan selesai dan keadaan agak sedikit lebih tenang.

Aku belum pernah menjalan proses persalinan di Indonesia, tapi jika aku harus melahirkan anak kedua, dan jika memungkinkan, aku akan memilih untuk melahirkan anak di Belanda. Tentu saja ini tergantung pada preferensi masing-masing Ibu yang bisa saja berbeda untuk setiap orang yah.

Jadi, overall, gimana lahiran di Belanda? CAPEKKK ASLI INI GA BOONG! tapi senang karena berasa intimate sekali, tapi ya lagi-lagi semua keputusan selalu ada sisi positif dan negatifnya, semua tergantung preferensi masing-masing saja.

Kalau kamu diberikan kesempatan melahirkan di Belanda, kira-kira mau ngga? hehe

2 thoughts on “Cerita Melahirkan Anak Pertama di Belanda

  1. Pengalaman melahirkan emang pengalaman yang luar biasa, ya. Saya juga pas melahirkan saya dokumentasikan proses melahirkan di blog. Tapi kayaknya yang anak pertama aja. Yang proses persalinan anak kedua enggak. Sekarang hampir udah lupa. Tapi kurang lebih persalinan kedua anak saya sama. Cuma anak kedua lebih cepet lahirnya dari kontraksi awal, ga lama nunggu bukaan seperti anak pertama.

    Ngasi nama anak mbak kayak dikejar-kejar gitu ya? Soalnya ditanyain terus hihi. Mala lahirnya lebih awal berapa hari dari due date-nya? Kalau anak saya keduanya pada lahir lebih awal seminggu dari due date-nya.

    Like

    1. Hi mbaaa,

      haha iya aku dikejer2 banget ditanyaain mulu akhirnya ttp ditulisnya dochter iwantoro karena belom pasti mau namain siapa hehe
      tapi akhirnya abis sampe rumah sepakat kasih nama malahayati sih soalnya 2 hari setelah lahiran harus segera lapor ke catatan sipil hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.