Hamil di Belanda Trimester 2: Badai pasti berlalu

Sesuai dengan judul tulisan ini, pengalaman hamil pada trimester keduaku memang dipenuhi beberapa drama kehidupan. Saat hamil trimester kedua, sebetulnya aku tidak sepenuhnya berada di Belanda. Aku sempat pulang ke Indonesia untuk melakukan riset master thesisku di Pulau Sumba. Kesempatan ini juga aku gunakan untuk mengunjungi keluarga di Surabaya, Jakarta dan juga menghadiri pernikahan seorang teman di Aceh. Semua aku lakukan hanya dalam tempo kurang dari sebulan. Wow! Gapapa tuh emang?

IMG_2345
Menghadiri pernikahan di Aceh

Sebetulnya dari bidanku di Belanda tidak ada larangan untuk melakukan aktivitas apapun (ya kecuali heavy lifting activities yah!) termasuk didalamnya melakukan perjalanan domestik dan internasional dengan menggunakan pesawat terbang. Tapi, lagi -lagi setiap wanita hamil memiliki kondisi kesehatan dan kehamilan  yang berbeda. Ada baiknya konsultasikan kesehatan dan rencana kegiatan kamu sebelum berpergian. Beberapa maskapai penerbangan pun mengharuskan wanita hamil untuk membawa surat berpergian dari dokter kandungan atau bidan serta menandatangani beberapa surat yang menyatakan resiko ditanggung oleh wanita hamil itu sendiri sebelum melakukan perjalanan.

#1 Hamil vs field research di Sumba

Hamil sambil kegiatan di lapangan? kenapa ngga? – dengan catatan konsultasi dengan dokter atau bidan terlebih dahulu dan kondisi kesehatan memungkinkan!

Kehamilanku termasuk sebuah kejutan yang tidak direncanakan. Sebaliknya, riset master thesisku sudah kurencanakan jauh sebelum aku hamil, termasuk didalamnya adalah pengambilan data di lapangan. So, the show must goes on! 

Alhamdulillah, berkat bantuan teman-teman dari organisasi Hivos, organisasi yang membantuku dalam pengambilan data di Sumba, proses pengambilan data lapangan dapat berjalan lancar. Aku berada di Pulau Sumba selama 2 minggu. Sayangnya, dengan kondisiku yang sedang hamil, Aku sangat mudah lelah sehingga tidak memungkinkan untuk menjelajah tepat-tempat indah yang ada di Pulau Sumba.

#2 Kehilangan Ayah

Sebulan setelah aku kembali ke Belanda, aku harus kembali lagi ke Indonesia karena kehilangan seorang Ayah. Tiket sekali jalan Amsterdam – Surabaya pun di beli secara kilat, pada pukul 18.00 CET untuk penerbangan malam itu juga 21.00 CET. Beruntung, aku masih bisa mendapatkan tiket penerbangan di hari itu juga, walaupun pada akhirnya aku tidak sempat melihat Ayah untuk terakhir kalinya karena beliau harus segera dikebumikan.

Sempat terpukul karena kondisiku waktu itu masih hamil sekitar 4-5 bulan. Sedih sekali karena Ayah telah menantikan cucu pertama-nya. Ayah juga sudah merencanakan perjalanan ke Belanda untuk menengok calon cucunya setelah aku lahiran. Persyaratan visa juga sudah mulai dikumpulkan. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain.

Namun, tetap bersyukur karena sebulan sebelum Ayah meninggal, aku sempat pulang ke rumah walaupun hanya beberapa hari saja. Rest in love dad.

IMG_2608

#3 Opname di rumah sakit

10 hari setelah Ayah dimakamkan, Aku dan suami berencana kembali ke Belanda dari Jakarta. Namun, penerbangan kami harus ditunda karena tiba-tiba aku merasakan kontraksi dan mual yang sangat hebat beberapa hari sebelum keberangkatan. Awalnya, aku cuma cek biasa ke dokter kandungan. Sekilas nampak tidak ada yang aneh, tapi mual tetap aku rasakan. 3 hari setelah itu, aku barus masuk UGD karena nyeri ulu hati yang tidak tertahankan. Hari itu akhirnya aku kembali ke dokter kandungan dan melakukan pemeriksaan ulang.

Akudi diagnosa placenta previa, yaitu keadaan dimana placenta (waktu itu nyaris) menutupi jalan lahir. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan rawat inap selama satu malam. Selain perawatan dengan dokter kandungan, aku juga melakukan konsultasi dengan dokter penyakit dalam dikarenakan mual pada ulu hati sampai melilit.

Alhamdulillah, setelah semalam dirumah sakit, kesehatanku membaik. dann… kami memutuskan untuk kembali ke Belanda setelah Lebaran, yaitu sebulan setelah Ayah meninggal. Kalau dipikir-pikir, ada hikmahnya juga, karena sakit, kami jadi bisa merayakan lebaran bersama keluarga di Indonesia. Sekali lagi, tetap bersyukur.

Berpikir positif ini penting sekali lho saat hamil. hehe.

IMG_2716.JPG

Akhirnya bisa pulang juga ke Belanda dengan catatan: harus banyak istirahat dan ngga boleh naik sepeda?!! what?!! Tinggal di Belanda membuatku sudah sangat terbiasa dna bergantung pada sepeda. Selain karena praktis dan cepat, naik sepeda juga murah! Akhirnya dengan berat hati aku harus rela jalan kaki dan naik kendaraan umum untuk berpergian. Agak sengsara dan setengah hati karena waktu yang diperlukan untuk bersepeda ke kampus jauh lebih cepat di bandingkan jika harus berjalan kaki ke halte bis, menunggu bis datang dan perjalanan naik bis ke kampus.

Karena ngga mau kelamaan susah, akhirnya aku melakukan cek ulang saat pemeriksaan bidan dan meminta untuk dilakukan tes USG janin secara menyeluruh 3 hari setelah aku sampai di Belanda (yes, I can’t live without my bike). dann ternyata oh ternyata, kehamilanku normal dan sehat walafiat! alhamdulillah.. terus kemarin ada darah kenapa?

Ternyata kata bidan, bercak darah saat kehamilan itu suatu hal yang normal karena otot-otot bagian bawah rahim menekan kebawah sehingga ada beberapa pembuluh darah yang pecah dan menyebabkan bercak darah. But again, every pregnancy is different so, you always need to check with your midwive or obgyn! dengan ini, akhirnya aku boleh naik sepeda lagi, YES! hehehe

#4 Pembatalan sepihak Asuransi

Seminggu sampai di Belanda, drama kehamilan belum juga berakhir! Kami menerima surat dari asuransi kesehatan dengan isi kalau asuransi kesehatanku dibatalkan secara sepihak oleh pihak asuransi dikarenakan aku tidak memenuhi persyaratan asuransi basis belanda.

ternyata yang adalah karena aku berstatus mahasiswa dan tidak bekerja sehingga seharusnya aku masuk ke dalam student insurance!

why oh whyyy padahal banyak sekali mahasiswa master wanita yang sedang hamil dan menggunakan asuransi basis. Akhirnya dengan usia kehamilan hampir menginjak 7 bulan aku harus ganti asuransi kesehatan! itupun aku harus menjelaskan sedetail-detailnya mengapa aku harus berganti asuransi kesehatan dan memerlukan asuransi kesehatan basis bukan student insurance. Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil mendapatkan asuransi Zilveren Kruis and I keep using this health insurance provider until now.

baca juga tulisanku disini tentang mengapa asuransi kesehatan itu penting untuk Ibu Hamil di Belanda


Every pregnancy has its unique challenges and stories but it’s important to stay postive for the sake of your baby and happy mommy!

Cheers

Tyas

2 thoughts on “Hamil di Belanda Trimester 2: Badai pasti berlalu

  1. hi kak, salam kenal. Saya membaca tulisan kakak tentang kehamilan dari part 1 dan part 2, dan skrg menantikan part ketiga. Soalnya saya lagi bimbang mau lahiran disini atau mending pulang saja. hehe. mungkin kalau membaca tulisan mbak saya jadi punya gambaran. 🙂

    terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.