Opini: Mahasiswa Itu Kuliah, Bukan Plesir, memang begitu kenyataannya!

Dear Mas Farchan Noor Rachman yang bijak, 

Perkenalkan, nama saya Tyas, saya adalah salah satu mahasiswa penerima beasiswa yang disinggung sama artikel si mas Farchan ini yang saat ini sedang menjalani tahun kedua saya, artinya, saya sedang sibuk menyelesaikan thesis saya supaya tepat waktu dan ga dinyinyirin sama makhluk-makhluk yang kurang pelesir semacam mas ini hehe.

Artikel beliau yang terhormat bisa dilihat disini

Sebagai langkah awal, mungkin Mas Farchan perlu membaca tulisan saya tahun lalu tentang bagaimana susahnya kuliah di luar negeri. Artikel ini sempat happening lohhh masss! Sayang, Mas Farchan ini kayanya kelewat ga ngebaca tulisan saya tahun lalu. Sok mangga di baca dulu disini.

Kali ini, saya rasa, saya perlu mengklarifikasi beberapa poin yang mas Farchan tulis, karena ga baik menyetir opini publik kearah fitnah atau bahasa sekarangnya: menyebar HOAX. Karena, tuduhan yang mas Farchan arahkan ke kami itu disertai bukti kosong… alias NIHIL.

1.      Kami, penerima mahasiswa tidak playing victim

Gini ya mas, mas punya kenalan penerima beasiswa dan kuliah di luar negeri berapa orang sih ? 100 orang? Sudah pernah ngobrol dengan semua kenalan mas? Saya rasa Mas cuma liat foto jalan-jalan anak2 penerima beasiswa ini lewat social media, ya kan ya kan? Ngaku deh! Memang betul, pelesir bukan satu-satunya obat dari penderitaan kami. Tapi, pelesir bisa menjadi pilihan untuk menghilangkan penat kami selama kami belajar di luar negeri. Terus Mas bandingkan kami dengan TKI yang hampir setiap hari Mas Farchan dengar berita kenestapaannya. Juga dengan pegawai pajak yang bekerja sampai larut malam.

“Ada pembayar pajak yang tulus dan ikhlas membayar pajak dan berharap negara ini menjadi lebih baik? Ada pegawai pajak yang bekerja sampai larut malam demi tercapainya penerimaan negara yang sebagian uangnya dipakai untuk Anda-Anda kuliah? Opo yo tumon kalau situ malah pelesir-pelesir? Mbok ya empati sedikit” – Farchan Noor Rachman 

Lah memang Mas Farchan dan teman-teman lain ini mau mendengarkan 1000 orang penerima beasiswa (atau bahkan lebih) mengeluh setiap hari di wall facebook Kalian? Di feed instagram Kalian? memangnya kalian mau tau berapa jam yang kami habiskan setiap hari untuk belajar demi menghindari anggapan picik dari orang-orang yang kurang pelesir ini?

Kami juga malas sekali mengeluh di sosial media. Memangnya kalau kami punya masalah, Kamu bisa bantu apa? Paling juga ada yang nyinyir: “Penerima beasiswa tukang mengeluh”. Nanti pasti orang-orang kaya picik yang punya opini:  “Ah kurang bersyukur banget sih! udah dibiayain negara, tiap hari ngeluh begadang dan belajar sampai malam, itu kan udah kewajiban penerima beasiswa atau mahasiswa!”  serba salah kan? Lagipula nih ya, upload foto lagi belajar ga ada bagus-bagusnya mas! beneran deh! Mendingan upload foto dengan latar belakang glacier di Iceland. Sedap di pandang mata!

Oh ya, banyak juga loh diantara kami yang menempuh pendidikan lanjutan ini sedih meninggalkan keluarga dan tanah air. Ga Cuma TKI aja yang merasakan kesedihan itu Mas! kami pun juga. Kami rindu dengan orang tua kami. Beberapa dari kami bahkan tidak bisa bertemu dengan orang tua kami untuk terakhir kali-nya dikarenakan jarak dan waktu perjalanan yang jauh. Ayah Saya meninggal bulan lalu karena serangan jantung. Dengan Saya kuliah di Belanda, Saya tidak bisa melihat muka Ayah Saya untuk terakhir kalinya. Ikut penguburannya aja gak bisa. Lalu, Mas bilang Mahasiswa ini perlu empati dengan pegawai Pajak, Mas Farchan sendiri sudah empati belum sama para mahasiswa rantau ini? Pernah ga, Mas mikir, kalau kami, mahasiswa, si penerima beasiswa ini juga manusia biasa yang punya keluarga di Indonesia? Saya bukan play victim atau minta di kasihani dengan kondisi saya. Ini hanya sebuah contoh dari 1000 orang lebih penerima beasiswa yang hidup jauh dari orang tua mereka.

2.      Kerjaan para mahasiswa dan penerima beasiswa ini harusnya CUMA BOLEH belajar

IYA BETUL. Nah sekedar info ya mas. Tahun akademik di Belanda itu mulai dari Bulan September dan berakhir di bulan Agustus tahun berikutnya. So, satu tahun akademik itu ada 12 bulan, sebagaimana wajarnya tahun ajaran akademik di Indonesia. Kalau Mas bilang kita, para penerima beasiswa kerjaannya PELESIR mulu, harusnya lebih dari 50% waktu yang kami punya, kami gunakan untuk PELESIR dong, ya ga ? kalau kurang dari 50%, berarti statement di tulisan Mas patut sya pertanyakan. Sekarang Saya tanya, memang Mas Farchan sudah pernah tanya dengan penerima beasiswa secara langsung: Dalam setahun, berapa lama sih waktu yang Kamu gunakan untuk PELESIR?

Oh belum nanya? Oke deh, Saya aja yang kasih contoh. Dalam satu tahun ke belakang, Saya cuma pergi ke Iceland selama 2 minggu, yaitu akhir Agustus 2016. Ok, Saya sempat pulang ke Indonesia selama 5 minggu, tapi bukan untuk PELESIR Kamuh mas, kebetulan riset Saya tentang energi terbarukan di Pulau Sumba. Kan Ms Farchan yang bilang, kita sebagai mahasiswa, penerima beasiswa dari negara, harus GIVING BACK KE NEGARA DAN BANGSA”.

Sekarang mari berhitung. Dalam satu tahun ada 52 minggu. Saya pergi PELESIR Cuma 2 minggu dalam setahun, itu artinya CUMA 3.8% waktu Saya yang Saya gunakan untuk PELESIR. Sisanya ? YA BELAJAR LAH, YA NESIS LAH.

OK, terus Mas bisa bilang:

AH kan itu Kamu, mahasiswa lain banyak yang liburan kok”

OK mari kita hitung kasar jumlah libur di Belanda ya!

  • 2 minggu christmas break
  • 1 minggu spring break
  • 8 minggu summer break

 Total: 11 minggu

Sekarang kalau misalnya si mahasiswa ini menggunakan semua waktu libur di Belanda untuk berlibur, berarti waktu yang dia gunakan untuk PELESIR : CUMA 21%. HAH itu juga kalau dia ga kena re-sit (Ujian ulang karena gak lulus mata kuliah) dan punya duit banyak banget!

Saya sendiri merasa ga mungkin buat PELESIR di hari libur kuliah itu secara penuh karena ada beberapa alasan:

  • Christmas break itu kalau di Belanda itu bullshit, soalnya kenapa? Di beberapa universitas, contohnya universitas Saya, setelah liburan natal, kami langsung menghadapi minggu ujian selama 2 minggu. So, libur natal kalau ga diisi sama deadline tugas, ya belajar buat ujian
  • Spring break itu juga bullshit, kenapa? Soalnya spring break ini juga ga bisa Kamu nikmatin kalau Kamu harus ambil ujian ulang
  • Satu-satunya libur yang bisa paling bisa dinikmatin cuma Summer break, ITU PUN KALAU KAMU GAK NESIS KAYA SAYA YAH! hehehe Mau liburan musim panas 8 minggu (bulan Juli-Agustus), kalau Kamu lagi ngejar deadline thesis ya Kamu mau ngomong apa ?

Ok, sekarang kalau kuliah di belanda selama 2 tahun, coba Kamu hitung proporsi waktu liburan dibanding dengan waktu yang harus kami gunakan untuk belajar. You do the math on your own yah mas!

3.      “TKI boleh pelesir karena pakai uang sendiri, sementara penerima beasiswa atau mahasiswa GAK BOLEH PELESIR karena dibiayain negara”

Saya rasa ada yang hilang dengan logika Mas Farchan dengan menulis statement seperti itu. Statement Kamu itu menyatakan: Mahasiswa ga boleh liburan soalnya tugasnya ya belajar, apalagi dibiayain negara

Dengan logika yang sama, Saya bisa bilang dong kalau PNS juga gak boleh ambil cuti, kan PNS kerjanya melayani masyarakat, digaji pakai duit rakyat juga kan? Guru /dosen juga gak boleh dongg berlibur, kan tugasnya ngajar, sebagai PNS, guru atau dosen kan juga dibayarin negara? Bener ga? Hehe

Kamu kira kita dapat beasiswa dari mana? Langit? Kita bisa kuliah diluar negeri, keterima kampus di Eropa, Amerika dll, sampai dapat beasiswa dari negara itu karena usaha sendiri kok. Pakai otak sendiri. Saya belum pernah nemu sih, seorang penerima beasiswa yang dapat beasiswa dari negara melalui jalan pesugihan, wangist, apalagi nyogok. hahaha

4.     “Penerima beasiswa menerima uang dari negara dengan cara yang mudah” – Farchan Noor Rachman

Gini ya mas, sudah pernah mendaftarkan diri ke salah satu kampus di luar negeri ? eropa atau amerika gitu misalnya? Udah pernah liat belum syarat masuk universitas-universitas di Eropa dan Amerika? Ada GMAT, GRE, TOEFL, IELTS. untuk mengikuti tes itu, kira-kira siapa ya yang bayar? Kita bayar sendiri keleusss….. tau gak, sekali tes harganya berapa? udah pernah cek ? let’s say 1 kali tes itu harganya sekitar USD 150-200. Kalau Saya perlu ambil IELTS doang sih, Saya cuma butuh satu tes. Lah kalau kampusnya minta IELTS dan GMAT? berarti Saya harus keluar uang sendiri sekitar kurang lebih USD 400 dong! Itu juga kalau sekali tes langsung Kamu lulus nilainya bagus, sesuai dengan persyaratan kampus. Kalau gak?  ya ngulang lah! Bayar lagi lah! Terus Kamu kira kami dapat nilai IELTS/TOEFL/GMAT/GRE itu bagus darimana? WANGSIT? Ya gak lah! Kami menginvestasikan waktu kami untuk belajar tes-tes itu supaya kami bisa diterima di kampus impian kami.

Coba deh mas daftar satu aja kampus di Belanda, TU DELFT misalnya, biar apple to apple sama Saya deh. Coba liat syarat yang diperlukan untuk masuk ke kampus itu, coba penuhin IELTSnya. Ohya, itu masih gampang. Kalau Mas mau apply ke amerika, Mas butuh nilai GMAT atau GRE lohh mas! Tau gak GMAT sama GRE itu kaya apa? kalau belum coba ambil tesnya iseng-iseng terus liat nilai mas berapa, cukup ga buat daftar kampus di Amerika atau business school di Eropa/Inggris.

Itu masih usaha untuk bisa mendapatkan kampus impian loh mas, belum dapat beasiswanya. Saya sendiri pernah gagal sekali untuk mendapatkan beasiswa baik dari Indonesia maupun Belanda. Sudah pernah coba daftar belum? Kalau gamau daftar coba liat syarat-syaratnya aja deh. Liat-liat aja iseng kalau nganggur gitu….

Terus, Kamu yang kurang PELESIR ini bilang kalau kami penerima beasiswa dapet uang beasiswa dengan cara YANG MUDAH ?

5.      Penerima beasiswa ga Cuma duduk nunggu transferan

Mas, jujur deh, sebetulny punya gak sih temen atau kenalan gitu yang dapat beasiswa negara yang mas singgung-singgung itu? kami, penerima beasiswa ini ga cuma duduk nungguin transferan loh. Kami harus masuk ke portal beasiswa ini untuk menyerahkan progres akademik kita selama tiga bulan ke belakang. Pihak pemberi beasiswa juga mengecek loh mas, ga diem aja. Ada kasus, mahasiswa yang IPKnya kurang dari persyaratan pemberi beasiswa menerima email dari si pemberi beasiswa.

Terus, mas pikir biar dapat IPK yang bagus itu, kami para penerima beasiswa ini Cuma perlu duduk doang gitu? Ya ngga dong, kami perlu belajar. Lagi-lagi pressure dari pemberi beasiswa ini untuk lulus tepat waktu ini tinggi mas.

Kenapa? Soalnya kalau melebih batas waktu yang ditentukan oleh pemberi beasiswa ini, kami harus membayar biaya perkuliahan kami sendiri. Tau ga mas berapa? Kalau di kampus saya, saya harus membayar sekitar EUR 1300 setiap bulan. Ya, kalau kebetulan si penerima beasiswa ini mampu ya enak dia bisa bayar sendiri, kalau gak? gak ada pilihan lain selain lulus tepat waktu mas.

Lalu, Mas Farchan masih bisa bilang kalau kami cuma duduk nunggu transferan?

6.      Living allownce itu hak para penerima beasiswa seperti halnya gaji PNS adalah hak para pegawai

OK, jadi gini mas. Jujur yah mas, para penerima beasiswa ini, alhamdulillah untuk di Belanda, kami mendapatkan living allowance sebanyak EUR 1200 setiap bulan. WAAHH… GEDE YA? IDR 18 juta loh setiap bulan! Lebih gede dari gaji PNS di Indonesia.

Eits, gausah iri gitu lah. Jangan lupa juga fakta kalau biaya hidup di Eropa, apalagi di Belanda ini juga jauuuuhhh lebih mahal dari Indonesia. At the end of the day, si pemberi beasiswa ini Saya rasa sudah cukup adil dan bijak dalam menghitung berapa liliving allowance yang dapat diberikan kepada si penerima beasiswa.

Nah, walaupun living allowance ini dari uang negara, living allowance yang sudah diberikan kepada si penerima beaisiswa ini, sudah menjadi hak kami untuk secara bijak kami atur untuk mendukung kehidupan kami selama masa perkuliahan. living allowance ini biasanya kami gunakan untuk membayar sewa rumah yang bisa mencapai EUR 650 setiap bulan, lalu makan (kalau masak bisa EUR 100-200 setiap bulan), transportasi, pulsa telepon dan lain-lain sebagaimana mas Farchan, atau PNS lain menggunakan gaji mereka setiap bulan untuk menyokong kehidupan mereka di Indonesia.

Nahhh….. kalau ada sisa? Ya itu juga jadi hak si penerima beasiswa untuk ditabung dan digunakan untuk keperluan lainnya. Ada yang beli game karena orang-orang ini bisa menghilangkan penatnya dengan main game. Ada yang jalan-jalan keliling eropa. Ada juga yang mengirim kembali uangnya ke Indonesia untuk berinvestasi di Indonesia atau bahkan membiayai keluarga yang ditinggalkan di Indonesia.  Apakah salah? Ya nggak dong, kan living allowance ini sisa bukan tanpa sebab. Saya, bisa jalan-jalan, itu karena Saya menabung dan DENGAN SENGAJA menyisakan living allowance Saya untuk biaya melepas penat, dalam case Saya adalah dengan jalan-jalan. Gimana caranya Saya menabung ?

  • Saya jarang banget makan diluar. Setiap hari Saya masak. Beda sama yang di Indonesia, biaya makan keluar bisa murah banget
  • Saya jarang banget ke bioskop mas. Karena, sekali nonton bioskop bisa EUR 7,5. Jadi Saya gatau tuh film wonderwomen, spiderman homecoming, dunkirk dll – yang katanya bagus banget – itu kaya apa (kasian ya gue)
  • Saya makan nasi itu namanya BROKEN RICE, harganya EUR 0.70. Biar mas Farchan tau nih, broken rice itu kualitas beras PALING JELEK di Belanda. Ga ada tuh cerita Saya makan NASI PULEN / NASI PANDAN kaya Mas Farchan dan orang-orang lain di Indonesia. Karena nasi pandan harganya bisa mencapai EUR 3 /kg.
  • Saya jaraaaang banget pergi selama weekend. Kebanyakan weekend Saya, Saya habiskan di rumah saja. Atau ke taman dekat rumah untuk sekedar refreshing melepas penat dan demi punya uang untuk jalan-jalan ke tempat yang Saya inginkan

At the end of the day, kami, mahasiswa si penerima beasiswa ini manusia juga. Kami juga penat dan stres menghadapi masa-masa perkuliahan kami. Dan masing-masing orang mempunyai cara yang berbeda untuk menghilangkan stresnya, yang penting jangan sampai bunuh diri. Betul ga?

Ada yang main game, ada yang jalan-jalan, ada yang makan-makan. Ya banyak cara, sebagaimana mas Farchan, dan orang-orang normal lainnya, punya caraya masing-masing untuk menghilangkan penat. Saya tau, Saya sekolah pakai uang negara, dan selalu isu ini yang Saya liat dari kebanyakan orang: “Dibiayain pakai uang negara malah jalan-jalan”

Saran saya nih ya, kalau Kamu punya pemikiran sepicik itu. Coba deh kamu daftar sekolah keluar negeri, daftar beasiswanya, terus ngaca. Masih bisa ngomong kaya gitu lagi apa gak?

Saya rasa, kurang bijak rasanya menilai para penerima beasiswa ini dari hanya foto-foto travelling a.k.a PELESIR mereka dan saat mereka tertawa. Tanya juga dong, giman susahnya dapat nilai 6 atau sekedar lolos satu mata kuliah dalam satu kali ujian.

Tapi kalau Mas Farchan dan teman-teman yang lain berpendapat demikian, ya silahkan, itu hak Anda,

Kalo saya sih…. seperti kata Netizen zaman sekarang: “wkwk” in aja lah.

Nih Bonus, foto saya lagi di PELESIR di Iceland hahahaha

mvi_4183-361

Sekian.

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “Opini: Mahasiswa Itu Kuliah, Bukan Plesir, memang begitu kenyataannya!

  1. Boleh boleh aja jalan-jalan. Tapi bisa gak, ga usah di post di social media. Rata2 kan pasti di post di media social. Yah mudah-mudahan niat mereka tidak pamer atau sombong.

    Liked by 1 person

    1. Hai terima kasih sudah mampir,

      Ya kita ga bisa kontrol juga kan setiap orang beda2, ya mudah2an bukan untuk pamer niatnya. Lagi pula, fitur instagram itu memang digunakan untuk ‘pamer’ foto. Kalau terusik ya tinggal gak usah di follow.
      Nanti juga kalau posting lagi belajar atau ujian dibilang ‘pamer’ atau ‘ngeluh’ kan. sama aja.

      Jadi mending ga usah main instagram kalau ga mau liat foto2 kesenangan orang lain. Masa lagi sedih2 dan stres dipamerin? Apa bagusnya?

      Atau mending ga usah main socmed sekalian
      Hehe

      Like

  2. Tetap semangat. Bagi saya pribadi para peraih beasiswa adalah pejuang yng tangguh. Tidak gampang untuk menembus semua tahapan seleksinya. Ada orang nyinyir mungkin karena iri. Dia mungkin punya niat plesir yang tak kesampaian. Di-hahaha-in aja lah.

    Like

    1. hi Pradita,

      terima kasih! senang sekali ada orang yangpaham bahwa tidak mudah mendapatkan beasiswa dan tidak mudah pula hidup diluar negeri untuk menempuh pendidikan.

      salam
      tyas-arya

      Like

Leave a Reply to Pradita Rahman Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.