Untuk kamu yang sedang berjuang menggapai mimpimu

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”, Andrea Hirata

dream.jpg

Tulisan ini aku tujukan untuk kamu yang sedang (sangat) berjuang untuk meraih mimpi-mimpimu,  terutama untuk kamu yang sedang menghadapi kegagalan, kamu yang sangat ingin melanjutkan sekolah keluar negeri dan suamiku, Arya.

Buatku, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi atau terlalu besar. Semua mimpi bisa tercapai asalkan kamu tidak takut untuk mencoba, berusaha, dan berdoa semaksimal mungkin. Kalau sudah berdoa dan berusaha secara maksimal, tapi tetap GAGAL? Then I have magic words for you:

“God never closes one door without getting ready to open another door with so much greater things for you”

I know, kalimat ini terdengar sangat klise, apalagi untuk kamu yang sedang menghadapi kegagalan. But, let me tell you stories that give me so much inspirations and hopefully could make you keep fighting for your dreams.

#1 Cerita tentang dia dalam keterbatasan

xx.jpg

Untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, kamu diwajibkan untuk memiliki kemmapuan berbahasa inggris yang cukup. Kemampuan ini biasa dibuktikan dengan sertifikat IELTS/TOEFL. Untuk mendapatkan sertifikat ini tidaklah murah. Kamu diharuskan untuk menyiapkan dana sebesar 175-195 USD untuk satu kali tes. Kalau gagal? Kamu harus membayar dengan jumlah uang yang sama untuk mengambil kembali tes IELTS/TOEFL.

Baca juga: Tips and tricks WRITING IELTS disini

Tentunya kamu ingin sekali ambil tes ini langsung berhasil kan? ya, bisa saja, kalau kamu sudah sangat fasih berbahasa inggris atau kamu punya cukup uang untuk mengambil IELTS/TOEFL preparation course dengan biaya yang juga tidak murah.

Seorang temanku dari Banten, dia kurang bisa berbahasa inggris dan tidak punya cukup uang untuk mengikuti preparation class untuk IELTS. Dalam keterbatasannya, dia mampu mendapatkan beasiswa dan sekarang sekolah di salah satu universitas ternama di Belanda. Dia mempersiapkan dirinya di kampung bahasa inggris. IYA! Kampung bahasa inggris yang ada di Pare, Kediri.

I never thought about Kampung Inggris before. In fact, aku baru mengetahui Kampung Inggris ketika dia menceritakan perjuangannya itu. Kelas yang ditawarkan di kampung ini sangat beragam. Mulai dari kelas conversation biasa sampai kelas persiapan IELTS dan TOEFL. Biayanya pun jauuuhhh lebih murah daripada lembaga-lembaga kursus bahasa kebanyakan. Ditambah lagi, biaya hidup di Pare, Kediri tidak akan membuat kantongmu bocor.

Cek program persiapan kuliah keluar negeri dari kampung inggris disini: Kampung Bahasa Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur

#2 Cerita tentang dia yang berada diunjung tanduk

Ini cerita temanku, Kiki. Tahun ini, dia berangkat ke Budapest untuk melanjutkan sekolah. From him, I know that the struggel is REAL when it comes to getting a scholarship that pay all your tuition fee, living cost, and flight tickets. Kiki, memulai perjuangannya dengan mencari beasiswa dan universitas yang dia inginkan sejak tahun 2014. YES, it took him 2 years to reach his dream. It’s definately not easy, but I hope it’s worth the efforts now. Dia menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk IELTS test dan IELTS preparation class. Kiki, juga mengalami kegagalan selama dua kali di beasiswa LPDP di tahun 2016. Gagal sebanyak 2 kali di beasiswa LPDP berarti kamu tidak bisa mendaftarkan namamu di beasiswa tersebut seumur hidup.

If I were him, I will probably kill myself (no, just kidding). BUT SERIOUSLY! I couldn’t imagine myself in his position. I would be so desperate cause there is no way that I could study abroad. But guess what? Kiki bukan aku. Dia tetap berusaha mencari beasiswa yang bisa membawanya kuliah di luar negeri.

Kiki menemukan Stipendium Hungaricium Scholarship. Itu adalah  sebuah program dari pemerintah Hungaria. Tahun 2016, merupakan tahun pertama program ini dibuka untuk pelajar Indonesia. Apakah ini sebuah kebetulan? maybe. But hey! See how the magic words work! Maybe LPDP or his previous chosen universities are not good enough for him, so that’s why he failed. But then? Another door is opened.

I believe that he’s enjoying his time now in Budapest.

Baca cerita lengkapnya disini: I didn’t come this far to only come this far

buda.jpg

#3 Cerita tentang dia yang gagal

diss.jpg

Temanku. Gagal mendapatkan beasiswa apapun untuk melanjutkan studi S2. Iya. GAGAL.

Aku percaya, dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih mimpinya. Berbagai beasiswa pun ia coba dengan segala tantangannya, terutama masalah birokrasi dan syarat-syarat tertentu yang diberlakukan oleh si pemilik dana beasiswa. Sayangnya, tidak seberuntung Kiki, temanku tidak berhasil melanjutkan sekolah dengan beasiswa apapun.

Keinginannya yang besar untuk melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi lebih besar daripada kekecewaannya akan kegagalan. She pursue her dreams with her own funding.

Dia dan suamiku, sangat ingin melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang doktoral. I know that my husband is struggling to find any funded Ph.D projects in his field. I can assure you that it is not easy to find a funded Ph.D project that is very well-matched with your interest / your field. And guess what? temanku mendapatkan tawaran untuk menjadi Ph.D candidate di sebuah Ph.D project sebelum dia lulus S2. Artinya, dia tidak membutuhkan beasiswa apapun untuk melanjutkan sekolah ke jenjang doktoral. In fact, dia akan digaji oleh universitas layaknya seorang peneliti! It was so much easier than her struggle to get scholarships for her master study. It was so much easier and simpler than I ever could imagine.

Maybe, God owes her one.

#4 Cerita tentang dia yang berada diantara dua pilihan

c.png

Dalam perjalanan menggapai mimpi kita, tak jarang kita sering dihadapkan dalam dua pilihan yang membingungkan. Salah satunya adalah ketika memilih jurusan atau universitas yang ingin kita tuju. Seorang temanku, sangat ingin melanjutkan sekolah di Inggris. Di Imperial college, London.

She’s such a UK-minded person that doesn’t want to apply in anywhere elses in this world. Yet, her parents suggest her to think about other options, such as The Netherland. Dengan pertimbangan waktu tempuh studi. Di Inggris, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan S2 adalah 1 tahun. Sedangkan di Belanda, kamu membutuhkan waktu minimal 2 tahun untuk lulus dengan gelasr Master (kecuali untuk jurusan business dan hukum yang membutuhkan waktu 1 tahun). Dengan beban studi yang sama, tentu kamu bisa membayangkan bagaimana sekolah di Inggris. Jadwal belajarmu akan jauh lebih padat.

So, she kept the options open. Dia mendaftarkan diri di Imperial college dan salah satu universitas ternama di Belanda. Sebelum diterima di universitas yang dia inginkan, temanku telah mendapatkan beasiswa LPDP tanpa LoA dengan mengatasnamakan Imperial College sebagai kampus tujuannya. Artinya, jika dia diterima di universitas selain Impersial College, dia harus mengurus perpindahan universitas sesuai dengan ketentuan LPDP.

Kurang dari 1 bulan, temanku mendapatkan LoA dari universitas di Belanda. Mengurus perpindahan universitas di LPDP memakan waktu yang cukup lama. Dan jika perpindahan universitas itu tidak segera diurus, temanku tidak bisa melanjutkan sekolah tahun ini. Di saat yang sama, LoA dari imperial college pun tidak kunjung datang. It took more than 2 months, which was very unusual (usually it takes less than 8 weeks). Dalam keadaan terdesak dengan deadline untuk mengurus perpindahan universitas, temanku akhirnya memutuskan untuk mengajukan perpindahan sekolah ke Belanda. SATU HARI setelah dia mengajukan perpindahan, LoA dari Imperial College pun datang.

Apakah dia menyesal dengan keputusannya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda? -negara yang tidak pernah ada di dalam bayangannya. And she said NO! In fact, she is so happy that she has chosen the right option which was: not to wait for imperial college LoA but to continue her study in the Netherlands.

“I could not imagine myself studying in the UK for one year. Maybe, I could have been more stressful. Maybe I could have been very sad. I don’t know. It doesn’t matter now, cause I am happy that I could study in here.”

So if you think that you fail to achieve the first option of your dream, keep the other options open too. Because, you never know what the second option offers you. It could be better or even the best for you!

God works in very mysterious ways, you just need to trust It

Baca cerita lengkapnya disini: Mengenai Haluan yang Berganti

#5 Cerita tentang dia yang selalu diremehkan

love.jpg

Kalau kamu adalah salah satu lulusan universitas terbaik di Indonesia, sebut saja UGM, UI, ITB, ITS, UNAIR, UNDIP dan Universitas negeri terkenal lainnya, maka kamu adalah salah satu orang yang beruntung. Kenapa beruntung? Karena akses informasi dan pengetahuan di universitas-universitas itu jauh lebih bagus dibanding dengan universitas yang lain. Terlebih lagi, sudah banyak alumni dari universitas-universitas negeri ternama itu berhasil mengenyam pendidikan di luar negeri. Hasilnya? dosen-dosen di universitas negeri itu pun sangat mendorong murid-muridnya untuk melanjutkan sekolah keluar negeri.

Bagaimana dengan kamu yang berasal bukan dari salah satu universitas unggulan itu? yang terpenting adalah: DILARANG MINDER DAN RENAH DIRI. Kalau kamu berasal dari universitas yang kata orang “kurang terkenal”, itu bukan berarti kamu merasa kamu tidak mampu sekolah keluar negeri. Semua itu bergantung dengan usahamu: cukup besar tidak usahamu untuk melanjutkan sekolah keluar negeri ?

Temanku, orang yang sama dengan cerita di nomer 1, dia adalah salah satu alumni Universitas Negeri di Banten. Universitas ini bisa dibilang “kurang dikenal” banyak orang. Tidak ada alumni universitas ini yang melanjutkan sekolah ke luar negeri sebelumnya. Dia merupakan orang pertama dan (mungkin masih) satu-satunya alumni dari universitas ini yang berhasil melanjutkan sekolah ke salah satu universitas ternama di Belanda.

Itu semua dia raih bukan tanpa usaha dan ejekkan dari orang-orang di dekatnya. Sering sekali dia diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan oleh salah seorang dosennya:

Kamu ini tidak mungkin bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri, mimpi apa memangnya kamu?

Ya, memang semua itu berawal dari mimpi. Jangan pernah berhenti mengejar mimpimu walapun orang-orang disekitarmu tidak pernah berhenti meremehkan dan menjatuhkanmu. Percaya saja, semua usaha pasti akan membuahkan hasil.

Jika kamu adalah salah seorang yang sering diremehkan, cobalah untuk menyingkiran hal-hal (atau orang-orang) negatif dari hidupmu. Dengan begitu, kamu bisa tetap fokus pada apa yang ingin kamu capai.

#6 Cerita tentangku

IMG_2816

Hari ini, resmi sudah aku tinggal di Belanda selama 1 tahun 2 bulan. Aku tidak pernah menyangka aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Belanda karena aku berasal dari keluarga kelas menengah yang pastinya tidak akan mampu untuk membayar biaya sekolah yang memakan dana ~EUR 15.000 – 19.000 per tahun. Ditambah, aku bukan mahasiswa dengan prestasi akademik yang menonjol di kelasku. Bisa dibilang, aku mepunyai latar belakang ekonomi dan otak di kelas rata-rata.

Aku mengalami kegagalan untuk mendapatkan beasiswa sebanyak dua kali. 1 kali gagal di beasiswa LPDP dan 1 kali gagal di beasiswa StuNed. Ketika aku gagal untuk mendapatkan beasiswa LPDP, bisa dibilang, itu adalah kegagalan pertama dalam hidupku. Most likely, I always got what I want. But now I know, it hurts so much when you fail. Harus aku akui, aku cukup frustasi saat aku gagal di beasiswa LPDP. Yes, I cried. But thank God, I got my wonderful family, caring friends, and loving boyfriend (so I was not married that time).

The second failure was okay. It was managable. Aku belajar banyak dari kegagalanku pertamaku. Dari situ, aku belajar untuk menghadapi sebuah kegagalan. Dari situ juga aku belajar, kamu boleh sedih, boleh frustasi saat gagal, 1-2 hari cukup, tapi jangan kelewatan. You need to stand up and get up as soon as possible to achieve what ever you are dreaming of. So, aku mencoba tes LPDP untuk yang kedua kalinya. And this time, I learned A LOT from my mistakes in the previous test. I was much more prepared for eveything.

And finally I am here, writing this for you!


Now that I am in my second year, I need to finish my thesis next year. I know it won’t be easy. In fact, the struggle is real since the beginning. I am writing this post as a reminder to myself that: nothing great comes easy.

stress

I am very grateful that I always have my family, good friends, and husband to support me.

And I can’t thank enough to all my friends that have shared their failures to me. It means a lot. I am totally inspired by your struggles and fights.

I hope that you will be inspired too by their stories!

So, tell me, what’s your story?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.