Jangan [sok] mendorong orang untuk Travelling

Lama ga update blog,  judul tulisan gue minta banget di omelin banyak orang, hehe. Lagi-lagi tulisan ini gue buat untuk dibaca santai, bukan untuk diperdebatkan, karena ini cuma opini gue. Kalau lo punya opini yang lain, ya silahkan, gue ga melarang kok. Alasan gue menulis ini simple, tulisan tentang “kenapa lo harus travelling” udah banyak. Tinggal search di google ada tuh mau bahasa indonesia ataupun inggris. Tapi jarang yang ngebahas tentang kenapa lo juga GA PERLU travelling.

All my life, gue suka banget yang namanya jalan-jalan, ya siapa sih yang ga suka kalau liburan? dimulai dari jalan-jalan biasa di kota-kota aja, sampai pada tahun 2011 gue mulai mendaki gunung, dan tahun 2014 gue bertemu dengan Arya (suami gue sekarang) dan mulai diving. Selama ini, gue selalu bilang ke orang “lo tuh harus banget jalan-jalan, bagus banget kota A, gunung B juga cantik banget, apalagi laut C yang koralnya indah ditambah ikan-ikannya yang lucu”. Bahkan ada quote kekinian yang bilang “Indonesia itu indah bro, jangan di rumah aja”.

I always urge (at least) my closest friends to do the same: to travel, to hike, even to dive. Then, I realized that it was my biggest mistake. LHO KENAPA SALAH ??? eits, jangan berontak dulu, kita runut pelan-pelan kenapa gue merasa itu adalah kesalahan terbesar gue.

1. Travel itu bukan kebutuhan Primer,bukan juga kebutuhan Sekunder

Waktu gue SD, gue diajarin tuh yang namanya 3 kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier. Kebutuhan primer yang mencakup kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi supaya manusia hidup dengan wajar yaitu sandang, pangan, papan. Lalu Sekunder, kebutuhan yang menjadi pelengkap kebutuhan primer misalnya kulkas dan TV. Dari dua kebutuhan itu, ga ada tuh yang namanya TRAVEL. Nah, travelling itu menurut gue masuk ke kebutuhan Tersier, yang mana merupakan kebutuhan pelengkap KALAU kebutuhan primer dan sekunder udah terpenuhi. Jadi, kalau lo merasa kebutuhan primer dan sekunder lo udah terpenuhi, lo emang bisa travelling. Tapi, ga ada kewajiban tuh untuk orang lain supaya mereka juga travelling atau berpergian seperti lo.

Travelling itu menurut gue masuk ke kebutuhan Tersier, yang mana merupakan kebutuhan pelengkap KALAU kebutuhan primer dan sekunder udah terpenuhi.

2. Everyone has their own priority

Alasan yang ini nyambung ke alasan yang pertama. Ga semua orang sebetulnya pengen jalan-jalan. Ada orang yang pengennya hidup settle dulu. Misalnya, punya apartemen/rumah dulu, lalu mobil, dll setelah lengkap dia baru mau jalan-jalan, biasanya sih ini kasusnya cowo soalnya buat modal nikah hehehe. Ada orang yang (kaya gue) belum punya rumah tapi jalan-jalan terus.

Jangan mendorong orang untuk travel karena setiap orang punya prioritasnya masing2. Sering banget gue denger becandaan = “kurang piknik dan jalan2 kali tuh orang, jadi gampang sewot”, percayalah itu ga ada hubungannya sama sekali, hehehe. Gue punya temen, tukang gadget, yang uangnya abis buat beli barang-barang high-tech, tapi dia ga gampang sewot tuh karena dia jarang travelling.

Biarlah orang yang menentukan prioritas mereka, karena ga semua orang menempatkan travelling di prioritas teratas mereka.

3. Not everybody has money to travel

Ada orang yang nulis “how to travel the world without money”, well mungkin buat sebagian kecil orang hal itu mungkin bisa dilakukan. Tapi in general, kalau lo mau jalan-jalan, ujung-ujungnya ya lo perlu menyiapkan uang. Lalu, lo bilang kalau backpackeran kan bisa murah? betul sekali, tapi murah kan juga tetep aja uang. Apakah kalau backpackeran murah itu berarti bayarnya bisa diganti pake daun? Ngga juga kan.

Ada juga quotes yang bilang “Quit your job, start to travel“, mungkin quote itu berlaku buat orang-orang yang kerja di negara maju. Di Belanda, kalau lo kerja part time, seenggaknya lo dibayar 10 Euro / jam. Kebayang kalau lo kerja 8 jam/hari selama 20 hari, lo udah bisa punya uang 1600 Euro/ bulan atau setara dengan seitar 22 juta rupiah. Itu cuma kerja part time jadi pelayan restoran lho. Kalau di Indonesia? gue kerja di multinational company 2 tahun juga gaji gue ga nyampe tuh segitu. Kebanyakan orang di negara maju, mereka kerja beberapa tahun, dan pergi beberapa tahun.  Jadi mereka nabung at the first place lalu travelling. Kalau kerja full time? di Belanda, kerja full time bisa digaji minimal 2000 eur/bulan atau sekitar 30 juta/bulan dengan waktu libur 5 minggu setahun (libur itu ga termasuk Christmas holiday dan libur nasional lainnya). Jadi dengan kerja full time pun lo bisa pergi 1 bulan dalam setahun.

Beda kasusnya dengan di Indonesia. Selain currency rupiah yang suffering kalau pergi keluar negeri, upah di Indonesia juga termasuk rendah. Alhasil, orang Indonesia harus pintar membagi uang yang ada untuk memenuhi segala kebutuhan.

Kenapa jangan menggembar-gemborkan travelling? Karena ga semua orang (atau orang tua lo) punya uang, atau dana yang dialokasikan untuk travelling. Sebenernya alasan ini nyambung juga ke alasan kedua. Ada orang yang ga punya alokasi dana buat travelling, karena prioritas dia adalah nyicil apartemen, yang menurut gue ga ada salahnya juga, bagus malah karena melengkapi kebutuhan primer terlebih dahulu.

Yang bikin  gemes itu kalau lo masih sekolah a.k.a dibiayain orang tua. Jangan sekali-sekali sok-sokan promosiin travelling keliling Indonesia atau backpackeran keluar negeri deh,  kalau uang jajan aja masih minta ke orang tua. Cari itu susah, ga semua orang tua mampu ngebiayain anaknya jalan-jalan. Beruntung kalau orang tua lo bisa, tapi belum tentu orang tua temen-temen lo yang lain mampu kan? So, stop urging your friends to travel.

4. Not everybody enjoys travelling

This is why you need to stop encouraging people to travel. Karena at the end, ga semua orang suka berpergian. Gue termasuk orang yang suka pergi ke tempat yang baru, sedangkan Arya (suami gue), dia suka pergi ke tempat yang emang dia udah tau apa yang mau dilihat atau dilakukan. Ada juga temen gue, dia sukanya tidur aja, istirahat, paling mentok nonton serial atau ngegame, kalau hari libur. Ada orang yang pengen menghabiskan waktu sama keluarganya atau pulang kampung kalau lagi cuti.

Sekarang ini, travelling udah jadi tren. Untuk orang yang gampang banget terpengaruh tren, dia menganggap orang yang bisa jalan-jalan itu orang yang keren. Apalagi adanya program TV “My Trip My Adventure” dengan host yang kekar, ganteng dan super macho ala anak muda masa kini. Orang yang terpengaruh tren ikut-ikutan berburu tiket murah di travel fair supaya bisa posting foto kekinian di instargram dan terlihat keren. Kalau lo termasuk orang yang mengikuti tren, padahal lo ga suka-suka banget buat berpergian, gue kasih tau ya, lo akan pergi ke tempat tujuan lo, liat apa yang perlu diliat oleh turis kebanyakan, foto-foto buat di upload ke facebook dan instagram, lalu pulang. Yakin lo mau buang-buang uang lo buat hal yang ga gitu lo suka cuma demi ikutin tren?

Gue percaya, setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengisi waktu luang mereka. Untuk lo yang emang demen travelling, cobalah untuk berhenti mendorong temen-temen lo untuk melakukan hal yang sama dengan lo karena belum tentu temen lo suka dan berakhir cuma buang-buang uang aja.

5. Not everyone who travels is a [smart] traveller

Menurut pendapat gue, ga semua orang bisa menjadi smart traveller, so ga semua orang sebaiknya lo dorong untuk travelling. Ada beberapa orang yang menurut gue lebih baik stay di rumah aja daripada dia pergi jalan-jalan. Dan menurut gue, orang yang seperti itu ga perlu lo dorong untuk pergi jalan-jalan. Tipe orang yang menurut gue harusnya stay dirumah aja:

#Tipe 1: Orang yang nyampah dimana pun dia berada

kalau lo pendaki, pasti udah gemes banget ngeliat gunung semeru, Rinjani dll yang penuh sampah. Itulah hasilnya kalau lo mengajak orang yang ga cinta alam sama sekali atau cuek dengan alam sekitar untuk naik gunung. orang kaya gini, mestinya dirumah aja, lebih baik dia nyampahi rumah dia sendiri daripada mencermari lingkungan.

#Tipe 2: Orang yang menganggap binatang dan tumbuhan tidak bernyawa

Sekarang ini banyak berita yang bilang banyak orang yang maksa selfie sama hewan dan berujung pada kematian hewan yang diajak selfie. DUDE! seriously ?! pernah juga ada orang yang ke Raja Ampat illegal, ga lewat jalur pariwisata pada umumnya. Kumpulan orang ini snorkeling tanpa pelampung. Munking biar keren dan bisa (sok2an) duck dive. Tapi sayangnya mereka adalah sekumpulan turis egois yang ga bisa snorkeling. Hasilnya ? koral-koral cantik di Raja Ampat pun diinjak-injak demi foto kece. Orang tipe ini juga seharusnya ke mall aja ga usah sok-sokan ke laut.

#Tipe 3: Orang yang arogan

Tipe orang yang arogan ini biasanya merasa lebih superior daripada warga lokal. Trust me, orang kaya gini sebaiknya stay di rumah karena meskipun dia pergi ke suatu tempat, orang tipe ini ga akan mempelajari apapun selama travelling karena sikapnya yang arogan. Selama kita berpergian ke suatu tempat, kita perlu menghargai kebudayaan lokal. We do not have right to judge anything when we travel.

6. Travelling itu self discovery/belajar sesuatu yang baru = BULLSHIT!

oke, alasan ini yang paling panjang dan menurut gue sangat mengganggu pikiran gue.

Gue setuju kok sama tulisan yang bilang kalau travelling itu bisa menambah rasa percaya diri dan kemandirian. Gue juga setuju kalau dengan travelling, kita menjadi belajar sesuatu yang baru dan mungkin menjadi self dicovery untuk sebagian orang. ASAL, lo travel sendiri dan dalam jangka waktu yang lama. Banyak blog yang nulis “KENAPA LO HARUS TRAVEL” dengan alasan-alasan seperti itu. Tapi coba deh lo liat lagi, berapa lama dia berpergian dan caranya gimana. Kebanyakan, orang yang nulis begitu dia pergi (1) SENDIRI – gak pake tuh travel agent dll  (2) Durasinya lama.

Ketika lo berpergian sendiri dan dalam jangka waktu yang lama, lo punya banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama warga lokal. Interaksi itulah yang membuat lo belajar kebudayaan dari tempat yang lo kunjungi. Berpergian sendiri juga pasti menambah rasa percaya diri dan kemandirian lo. Awalnya, lo mungkin merasa ga percaya diri karena bahasa inggris lo ga lancar, lo dipaksa untuk ngomong at least bahasa inggris selama lo berpergian. Dan karena lo travelling sendiri, secara otomatis lo pasti akan mandiri karena emang lo harus melakukan semuanya sendiri dan ga bergantung dengan orang lain. Berpergian sendiri juga menyediakan ruang untuk lo merenung a.k.a bengong. Mau merenungi nasib kek, bengong cuma untuk menenangkan diri kek, yang jelas ada ruang untuk lo berpikir mengenai hidup lo. No wonder kalau perjalanan seperti itu menjadi self discovery dan pelajaran berharga buat si penulis.

Jangan disamakan dengan lo atau gue yang travelling dalam waktu singkat. Banyak orang yang keliling eropa atau ASEAN cuma menclok-menclok 1 kota 2 hari atau bahkan 1 hari karena dikejar waktu. Udah gitu, nginepnya di hostel/hotel, travellingnya sama orang Indonesia, ngomongnya pake bahasa Indonesia lagi, foto-foto cuma biar bisa di posting di social media, apalagi kalau pake paket tur (mau pake tur mewah atau tur ala-ala backpacker). Mau backpackeran kek, mau mewah-mewahan kek, kalau cara travel lo kaya begitu, trust me, lo ga akan mendapatkan pelajaran apa-apa setelah lo balik ke tempat asal lo, kecuali foto-foto cantik manja buat di posting di instagram atau facebook.


We all need to admit that we are all tourists, mau bentuknya backpacker atau koper2an, selama perjalanan itu diurusin orang, pake tur, nginep di private room hotel/hostel, we all learn nothing. Gue pernah pergi cuma 2 hari 1 malam, bekal 1 bookingan kamar hotel bintang 4, dan jalan-jalan sama orang Indonesia. Hasilnya? Cuma dapat foto2 cantik luar negeri yang HITZ ala instagram. Dan sebaliknya, gue juga pernah berpergian lama di satu negara aja, sampe gue bisa tau budaya mereka dan belajar banyak dari situ.


At the end, travelling itu bagus buat lo yang emang enjoy. Walaupun lo pake tur (tur mewah ataupun tur ala-ala backpacker), at least, kalau lo emang enjoy, lo masih bisa menikmati perjalanan lo itu sendiri. Lebih bagus lagi, kalau lo arrange trip lo sendiri, tinggal di rumah orang lokal (courchsurfing) dan berinteraksi ga cuma dengan temen Indonesia lo, tapi juga dengan warga lokal. Dengan berinteraksi dengan warga lokal, lo bisa belajar kebudayaan mereka.

Kalau lo sangat suka berpergian, save it for yourself, karena yang untung juga lo sendiri bukan orang lain. Next time, do not repeat the mistakes that I have made. Try to stop urging or encouraging people to travel because you don’t know what exactly happen in their lives.

cheers!

12 thoughts on “Jangan [sok] mendorong orang untuk Travelling

  1. Karena kebetulan sudah diizinkan memiliki opini lain dan kebetulan juga ada form isian opini dibawah ini, izinkan saya memberikan opini! 🙂

    Terus sayang saya secara garus besar sependapat dengan artikel ini, walaupun saya ada kritik terhadap beberapa poin yang dituliskan di atas. Dimulai dari alasan yang membuat saya setuju dulu deh.

    Saya sependapat, bahwa traveling itu memang bukan sebuah kewajiban, sebuah benda yang dipamerkan kepada orang lain yang belum/tidak memiliki kapasitas untuk traveling layaknya seorang traveler (waktu, uang, keluarga dan keterbatasan lainnya).

    Rasa bangga akan sudah banyak traveling itu seharusnya diikuti dengan bertambahnya pengalaman yang bisa memupuk nilai tambah bagi diri sendiri dan orang lain, bukan malah menjadi congkak dan sombong sehingga menimbulkan kesan “chauvinistic traveler” dengan doktrin “lo belum pernah traveling, lo belum pernah kesini, lo di rumah terus = cupu.” Terlebih lagi ada pula yang saya lihat sebagai fenomena “ultra-nationalist traveler” atau istilahnya traveler yang jago kandang…yang jagonya traveling domestik melulu. Tag-linenya sih “Indonesia is dangerously beautiful,” dan menurut saya, it is indeed! Very beautiful! Tapi karena ultra-nationalist traveler ini udah terlanjur cinta mampus dengan wisata Indonesia dan ogah menilik wisata luar negeri, kapasitas dia sebagai traveler justru berkurang. Jangan sodorkan argumen “traveling luar negeri itu mahal bro, di dalem negeri aja, murah.” Silahkan bagi yang tinggal di Barat Indonesia mencoba merasakan berwisata ke wilayah Timur Indonesia. Harganya bisa sama atau bahkan lebih dari wisata ke luar negeri. Terkadang, wisata ke luar negeri itu perlu kok sekali-kali. Untuk pengalaman dan melihat sisi dan budaya lain yang non-Indonesian. Ada bagus dan jeleknya juga kok. Sama kaya Indonesia, ada yang bagus, ada yang jelek. Sama lah kaya diri kita, ada sisi yang baik, ada yang jelek.

    Nah, ke poin yang saya agak kurang setuju (boleh ya beropini lain). Dalam artikel disebutkan bahwa:

    “Gue juga setuju kalau dengan travelling, kita menjadi belajar sesuatu yang baru dan mungkin menjadi self dicovery untuk sebagian orang. ASAL, lo travel sendiri dan dalam jangka waktu yang lama.”

    Hmmm….agak kurang setuju kalau traveling untuk mendapatkan pelajaran, pengalaman, nila tambah, manfaat, dlsb harus dgn syarat kaku seperti itu (harus sendiri dan jangka waktu yang lama). Menurut saya, ini fleksibilitas dan kemampuan orang lain untuk bisa mendapatkan yang terbaik dari beragam bentuk trip dan waktu yang dimiliki. Saya, jujur saya, sering dan hampir setiap kali ikut open trip kalau mau traveling. Mengapa? Lebih hemat dan waktunya juga diatur (apa daya, saya buka orang kaya raya dan memang saya bekerja dengan cuti yang terbatas). Tapi saya selektif dalam tujuan saya mau kemana. Dengan open trip yang notabene terdiri dari grup dengan rentan waktu trip yang tidak terlalu lama tersebut, saya mencoba dengan semaksimal mungkin mendapatkan manfaat lebih selain hanya foto-foto indah yang katanya “instragamable” itu. Caranya? Gampang. Ngobrol dengan warga setempat, tanya budaya mereka, biasa nongkrong dimana, bangunan itu fungsinya untuk apa, itu pohon buah apa, apapun deh! Sehingga ketika saya sampai di rumah, saya juga mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapat MESKIPUN itu dari open trip. Jadi justru ini ujian bagi traveler, menurut saya. “Can you get the best of your travels in such a short time?” 🙂

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih mas Ario sudah mampir di tulisan saya ya..
      Hehe betul sekai! Saya setuju sekali. Sebenernya hang saya tekankan travelling itu memang akan banyak pelajarannya kalau kita bisa berinteraksi dengan warga lokal yang tinggal disana.. Ga cuma datang lalu foto2 saja ya.. Hehehe

      Namun, sayangnya Banyak diantara orang2 yang travelling lupa akan esensi itu. Saya ga masalah sih kalau memang travellingnya santai dan ga berinteraksi dengan warga lokal, saya kira traveller seperti itu hanya ingin melepaskan penat… Namun tetap diingat harus menjaga alam dan lingkungan sekitar dengan tdak nyampah atau menginjak2 coral kan ya hehehehe

      Regrads,
      Tyas

      Like

    1. Terima kasih sudah mampir 🙂
      Betul bangettt pendaki yang sok2 naik gunung tapi lupa kalau digunung itu ga boleh nyampah atau nyabut eidelweiss hehehehe

      Like

  2. Another view about traveling.
    Emang ngajak traveling gampang, ngajarinnya rada susah hehe..

    Solo travelling emang paling bermakna sih mbak ya. Apalagi kalo pake common sense dan tujuan yg jelas.

    Thx for writing, keep inspiring Tyas n Arya!
    Cheers

    Like

    1. hi @sandrosirait,

      terima kasih Bang Sanro sudah mampir ke blog kami. memang betul itu, ngajaknya gampang cuma ngajarin supaya ngga buang sampah sembarangan dan merusak alam itu lain lagi. hehehe

      solo travelling memang paling asyik, karena banyak waktu untuk berinteraksi dengn warga lokal, tapi kami skg travellingnya jadi duo bukan solo lagi hehehe..

      cheers,
      Tyas

      Liked by 1 person

  3. Ah ini bener banget. Tamparan untuk yang pergi traveling hanya ikut tren. So… tiap org juga bakal ketemu sendiri jalannya mengerti makna traveling itu sendiri.
    Gw sama gemesnya dgn mereka yg nyampah di gunung atau semena-mena dgn ekosistem di laut. Seriusss mirisss

    Like

    1. Halo Mbak Dyah,

      terima kasih sudah mampir di blogku.
      setuju mbaaak sedih banget kalau lihat sekarang gunung ramai dengan orang2 yang ignoran. Mau naik gunung, lihat alam, tapi ga mau menjaga alam. miris yahhhh :”(

      begitu juga yang di laut, mau lihat koral tapi pas snorkling di injak2..

      tapi semoga kesadaran teman2 yang travelling semakin meningkat!

      cheers,
      Tyas

      Like

  4. Semoga artikel ini dibaca sama temen gua
    Gua ngalamin depresi dan solusi dia adalah “lu harus travel” gua udah bilang gua tipe orang ga suka travel gua bahagia cukup dengan main game baca novel, tidur, tapi pandangan dia mengatakan seakan mahkluk yg patut dikasihani karena gak mau travel sedangkan gua cerita ke dia depresi karena bukan ingin solusi gua cuma akan merasa lebih baik kalo ternyata masih ada orang yg sayang ama gua seanggaknya biar itu bisa jadi alasan gua tetap hidup

    Like

    1. hi!
      thanks sudah mampir ya.
      semoga masalah apapun yang kamu hadapi, sehingga membuat depresi, bisa kelar ya.
      tentu ga harus travel, suamiku cukup bahagia kalau libur santai2 dirumah sambil streaming film 🙂

      tyas

      Like

  5. Blogwalking… setuju kalo traveling itu bisa membuka wawasan kalo dilakukan dalam jangka waktu lama, dan mencoba berinteraksi dengan warga lokal. Apalagi travelingnya udah masuk kategori “merantau”, wah itu baru mind opener banget. Suka agak2 sedih gimana gitu liat tren traveling saat ini yang cuma sekedar “have been here, have been there” atau foto2 cantik doang tapi jalan2nya sama orang indonesia juga. Buru-buru pula. Salam kenal dari negeri sebelah 🙂

    Like

    1. halooo salam kenal! makasih udah mampir.
      iya nihhh salam anak rantau! hehehe kalau udah jauh gini dan tinggal lama jadi anak rantau baru deh berasa banget perbedaan budaya dan lain-lain. jadi pikiran kita juga gak sempit yaaa.

      salam anak rantau!
      tyas

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.