7 Alasan Kenapa Jangan Melanjutkan Sekolah Ke Luar Negeri, Kalau Kamu……

Akhirnya… setelah sekian lama di kepala, kesampaian juga niat gue untuk mengeluarkan uneg-uneg gue ini dengan tulisan. Yah namanya juga anak sekolah, dibiayain negara pula, mesti kuliah dengan baik dan yang bener dong ya…hehe.

Ps: Tulisan ini ga bermaksud apapun selain untuk dibaca dengan santai hehe

Melanjutkan sekolah ke luar negeri bagi sebagian besar orang Indonesia dulunya adalah sebuah mimpi, termasuk salah satunya adalah bagi gue. Sekolah di luar negeri buat gue adalah suatu hal yang sangat mahal karena emang lo butuh banyak uang untuk bayar tuition fee yang beribu-ribu euro/dollar/pounds yang kursnya juga bikin sakit kepala kalau di rupiahin. Belum lagi biaya bulanan yang mungkin bisa menguras tabungan orang tua di bank.

Kabar baiknya adalah kuliah ke luar negeri sekarang bukanlah mimpi. Ratusan bahkan ribuan beasiswa disediakan oleh Pemerintah Indonesia dan atau negara tujuan setiap tahunnya! Dengan bekal tekat dan usaha yang kuat, atau bisa dibilang nekat… lo bisa kuliah ke luar negeri. At least, itu menurut gue. Sudah sangat banyak tulisan yang mengulas kenapa kalian HARUS berkuliah ke luar negeri dan BAGAIMANA caranya untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, tapi apakah kalian siap dengan apa yang kalian akan hadapi nantinya? Banyak sekali tulisan yang mengiming-imingi indahnya sekolah di luar negeri (plus jalan-jalan) secara gratis dengan menggunakan beasiswa, namun sangat sedikit sekali tulisan yang mengulas ‘ga enaknya’ sekolah di luar negeri. Menurut gue, situasi ini agak sedikit ga adil (dan bahkan ga real) karena lo hanya memperlihatkan kesenangan lo selama di luar negeri tanpa memperlihatkan susahnya ketika lo menjalani hidup lo di negara orang. Silahkan judge gue sebagai orang yang kurang bersyukur, tapi gue hanya memberikan fakta supaya lo berpikir ulang sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

7 alasan di bawah ini wajib banget lo pikirkan dengan matang sebelum lo memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri

#Alasan 1: Perbedaan cuaca yang super ekstrim

Tinggal di Belanda membuat gue sangat bersyukur gue lahir dan besar di Indonesia. Sebelumnya gue selalu mengutuk Jakarta dengan panasnya dan polusinya yang gila! Sekarang? gue merasakan betapa ga enaknya tinggal di daerah subtropis. Gimana ngga? di Indonesia iklimnya hangat dan bersahabat. Di Belanda? Even dutch told me “welcome to the Netherlands, when the weather here just to annoy you!”, itu kata warlok aka warga lokal sini lhoo. Gimana nggak?! Gue pernah mengalami 4 cuaca dalam 1 hari – cerah, mendung, hujan, salju lalu cerah lagi. Buat orang tropis, seperti gue dan kebanyakan orang Indonesia lainnya, kalau liat salju seneng dan noraknya minta ampun! Pertama kali gue liat salju turun, refleks gue ngangain mulut ke langit terus makan saljunya. Tapi percayalah, kalo sebulan penuh lo liat salju terus, KELAR idup lo. Capek! Mau ke supermarket jarak 5 meter aja harus pake baju super tebel. Itu juga masih bagus kalau lo bisa lihat salju, lah di Belanda? Gue Cuma dapat ANGIN doang sama es… hampir setiap hari mendung, kelam, kelabu, sendu, galau….apalagi buat yang jomblo atau LDR. ABIS idup lo. Hahaha. Jalanan beku, kalau naik sepeda mesti hati-hati, kalo ga, tabrakan terus jatuh. HUJAN ES itu super sakit kalo kena dimuka. Pernah suatu hari gue pulang sekolah cuaca cerah, tiba-tiba di tengah jalan hujan es dan sakit banget kena kepala dan muka. Bayangin aja es serut yang dijual sama tukang es teler nimpa di muka lo dengan kecepatan angin sekian km/h. KELAR.

“welcome to the Netherlands, when the weather here just to annoy you!”

 IMG_1518

#Alasan 2: Perbedaan budaya yang ekstrim

Well, ga cuma cuaca yang ekstrim. Ketika lo memutuskan untuk sekolah ke luar negeri, berarti lo juga sudah harus siap untuk menghadapi berbagai macam orang dengan bermacam latar belakang dan budaya. Beruntung buat lo yang bisa tinggal private room dengan shared kitchen dan toilet yang memadai, misalnya 3-5 kamar dalam 1 rumah. Seenggaknya, lo bisa saling mengenal housemate lo dengan baik. Lebih beruntung lagi kalau lo bisa tinggal di private apartment yang punya dapur dan kamar mandi di dalam. AMAN SEJAHTERA hidup lo. Lah tapi kalau lo harus tinggal di student housing yang menyediakan 1 kamar dengan 3 kasur didalamnya dan jumlah shared toilet yang sangat terbatas, bisa 1:15 (yang artinya 1 toilet buat ber-15 orang). Belum lagi lo ga tau siapa house/room mate lo dan seperti apa budaya mereka. Ada yang suka party tiap hari sehingga mengganggu waktu belajar lo, ada yang suka masak tapi ga pernah bersihin dapur, ada yang jorok banget pas make toilet, ada yang suka pake barang lo sembarangan, dan lain lain (silahkan komen dan tambahkan hehe)… dengan segala kemungkinan terburuk yang gue sebutkan itu, apakah lo siap?

1fe35c9335badb412c407c18ed15057eee98fbb691b111dcaefed3d54b6d32dc.jpg

“Ada yang suka party tiap hari sehingga mengganggu waktu belajar lo, ada yang suka masak tapi ga pernah bersihin dapur, ada yang jorok banget pas make toilet, ada yang suka pake barang lo sembarangan, dan lain lain (silahkan komen dan tambahkan hehe)… dengan segala kemungkinan terburuk yang gue sebutkan itu, apakah lo siap?”

#Alasan 3: Hal yang paling ngangenin adalah makanan Indonesia

Well, mungkin hal ini agak ga berlaku buat gue, karena di Belanda, gue bisa menemukan hampir semua bumbu dan bahan makanan untuk membuat masakan Indonesia. Bahkan kalau lo males masak, banyak banget restoran cina atau Indonesia yang cukup murah untuk sesekali eating out. Tapi kalau lo kuliah di negara yang ada di eropa timur seperti Polandia? Atau eropa utara seperti di Scandinavia? Pasti lo mengalami gejala kangen dengan masakan dan bumbu Indonesia….apalagi kalau lagi musim dingin, paling enak kan nyeruput bakso anget-anget pakai teh botol sosro…

10729183_963833056966917_62441079_n

#Alasan 4: Males masak? Cuma ada 2 opsi: lo anak konglomerat atau lo mau mati kelaperan

Sebelum gue kuliah di Belanda sebenernya gue juga sekolah di kota yang berbeda dengan orang tua gue. Walaupun sama-sama jadi anak kos, waktu gue kuliah S1, gue ga pernah masak! Tinggal ngesot ke warteg dan menggenggam uang 7000 rupiah, gue bisa dapat ayam, nasi, dan sayur, ngapain gue masak? repot amat mending tidur kan (emang dasar anaknya pemalas). Lah di luar negeri? lo diwajibkan untuk masak buat makan! Yah kecuali lo anak konglomerat super kaya yang bisa eating out paling murah 5 Eur/porsi. Sekedar perbandingan, 5 eur itu gue bisa beli dada ayam fillet 1kg. Daging ayam fillet 1 kg itu bisa buat gue makan kira-kira 4 hari lah, berarti 12 kali makan. NAH LO….masih yakin gak mau masak ?

“Di saat seperti itu, kadang-kadang gue sangat merindukan masa-masa di pagi hari gue laper tinggal keluar rumah beli bubur ayam atau lontong kari di pinggir jalan…..”

7a603-dscf23142b1280x853

#Alasan 5: Belajar adalah makanan sehari – hari

Banyak temen gue bilang “kok lo jalan-jalan terus sih”, “kok lo keliling2 terus sih”. Oh my God, gue tuh cuma jalan-jalan pas lagi winter break selama 2 minggu dan spring break selama 1 minggu. Berarti itu cuma 3 minggu dari 5 bulan hidup gue di Belanda. Sisanya? emang lo tau gue ngapain ? ada temen gue bilang “Kuliah di luar negeri itu adalah ketika mengeluh aja ga ada waktu!” well, gue sangat setuju dengan hal itu, karena mau mengeluh dan nangis biar satu dunia tau pun ga akan berguna. Di tempat gue kuliah, ga ada bedanya mau itu minggu ujian atau minggu biasa. Kalau minggu biasa weekly assignment-nya super banyak baik individu maupun kelompok, kalau minggu ujian ya belajar buat ujian. Sekarang, masih mau bilang gue jalan-jalan terus?

“Kuliah di luar negeri itu adalah ketika mengeluh aja ga ada waktu”

1412681421482_wps_12_Skeleton_at_desk_with_cob

#Alasan 6: Kuliah di luar negeri itu capek bro, apalagi kalo gratisan dibiayain negara

Gue kuliah di Belanda emang dibiayain pemerintah Indonesia, makanya gue gamau dong menyia-nyiakan uang dari rakyat ini.. kalau sampe gue ga lulus, gue berarti ga bisa mempertanggung-jawabkan hasil kuliah gue kepada rakyat (istilahnya begitu lah ya). At least itu buat gue. Setiap hari beban mental, “duh gimana nih kalo gue ga lulus 2 tahun?”, “gimana kalo gue harus retake course?”,”gimana kalo gue harus retake year padahal pemerintah cuman bisa bayarin kuliah sesuai dengan masa studi” selalu ada! Jadi kalo lo berencana mengambil beasiswa uang negara, lo harus siap dong untuk sekolah dengan baik, dan lo harus siap dengan ‘beban mental’ tadi.

a

#Alasan 7: Beban pertanyaan: abis kuliah emang mau jadi apa/mau ngapain?

Nah sebelum lo berangkat emang sebaiknya udah tau mau jadi apa dan arahnya kemana setelah selesai sekolah. Jangan Cuma karena seleksi beasiswa lo asal nyeplos aja “saya mau jadi dosen”, “saya mau jadi menteri yang membangun Indonesia blablabla” eh pas lagi tahun terakhir kuliah ngerjain thesis mikir lagi “gue abis gini ngapain ya?” lah lo kuliah emang tadinya buat apa ? buat ngapain ? yaelah bro, kalo cuma ngejeplak doang di depan tim wawancara sih emang gampang, semua orang juga bisa, tapi yang rugi siapa kalau ga tau mau jadi apa setelah lulus kuliah ? lo lagi lo lagi kan ?

63915253


Well, at the end, gue sangat menyarankan kalian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dengan menggunakan program beasiswa! Gue yakin setelah kalian berpikir matang dan siap menghadapi 7 kemungkinan terburuk yang gue sebut diatas, kalian akan menjadi pribadi yang (seenggaknya sedikit) lebih mencintai tanah air (ceileeeeeh).

Tanya Kenapaaaa (lagi)? seorang warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Belanda dan tinggal disini selama bertahun-tahun berkata:

A: “lo lihat rumah bagus atau jelek dari mana?”

Gue: “dari luar”

A: “ makanya lo harus pergi jauh buat melihat negeri lo sendiri, bobroknya Indonesia dan bagusnya Indonesia sangat berasa ketika lo melihat dari jauh, bukan dari dalam”

Dan hal itu memang benar adanya. Dengan lo berada jauh dari Indonesia, lo bisa melihat tingkah lucu orang-orang Indonesia, baik itu yang berpendidikan ataupun tidak. Kadang-kadang mereka suka melawak. Gue merasakan hal itu sendiri saat berlangsungnya conference di Paris (COP21) yang membahas climate change, dan percayalah, kalau lo emang mengikuti perkembangan berita climate change, lo akan takut dengan masa depan bumi ini selama 20-50 tahun kedepan. Saat itu, ada sebuah situs yang menganalisa “negara mana yang membicarakan COP21 secara online”. Situs ini menampilkan peta dunia dimana ada titik-titik yang menunjukkan jumlah orang yang berbincang tentang #climatechange atau #COP21 atau kata kunci lainnya, and guess what? tidak ada titik yang ada di Indonesia. Di saat dunia meributkan dengan bagaimana caranya supaya suhu bumi ga naik 2 derajat celcius, di Indonesia masih sibuk ngurusin menolak untuk membeli kantong plastik yang cuma Rp 200,00.

“Di saat dunia meributkan dengan bagaimana caranya supaya suhu bumi ga naik 2 derajat celcius, di Indonesia masih sibuk ngurusin menolak untuk membeli kantong plastik yang cuma Rp 200,00.”

Sebuah ironi yang hanya akan terlihat kalau kamu berada jauh dari Indonesia….

Pesan gue, siapkanlah diri lo sebaik mungkin sebelum memutuskan melanjutkan studi ke luar negeri. Terutama, untuk 7 kemungkinan diatas yang akan lo hadapi. Mungkin lo akan melihat hal itu adalah sebuah hal yang sepele dan bisa dipikirin nanti… tapi percayalah… hal itu akan mulai terasa ketika lo memulai kehidupan lo jauh dari rumah dan zona nyaman lo.

“Jangan kuliah ke luar negeri, kalau kamu belum siap untuk 7 kemungkinan terburuk (atau mungkin lebih) yang akan kamu hadapi nantinya”

50 thoughts on “7 Alasan Kenapa Jangan Melanjutkan Sekolah Ke Luar Negeri, Kalau Kamu……

  1. Ulasan yg sangat excellent!
    Jujur, saya lebih suka artikel yg membahas fakta daripada sisi yg enak-enaknya aja.

    Dan untuk perihal climate change.
    Memang udah seharusnya kita sebagai generasi saat ini sadar akan kondisi Bumi n humanity utk kedepannya. Bahkan kalo bisa ikut berkontribusi.
    Dengan banyak membaca berita, memperluas knowledge, lalu juga memperluas pergaulan, maka yakinlah kita akan sadar dengan segala sesuatu yg bakal dihadapi di masa depan.
    Meski emang kelihatan sulit, tapi minimal udah dapat bocoran utk persiapannya.

    “It’s not just about the destination, but the journey”

    http://makanangin-travel.blogspot.com/

    Like

    1. haloo,

      terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar untuk artikel saya.
      saya hanya ingin memberikan artikel yang juga merupakan fakta yang saya alami dan saya lihat sendir, supaya lebih seimbang dengan banyaknya artikel yang membahas enaknya sekolah ke luar negeri 🙂

      tentu perihal climate change ini bagus sekali jika kita ikut partisipas di dalamnya. dengan di berlakukannya kantong plastik berbayar di Indonesia, itu sudah sangat berpartisipasi dalam mencegah kenaikan suhu bumi..

      semua berawal dari diri kita sendiri 🙂

      cheers,
      Tyas

      Like

      1. hi tyas dan arya….waakakkakakakak yooooooo yg baru dateng ke delft langsung makan nasi rames ^__^ wakakakakakka menyenangkan sekali pengalaman kalia #eaaaaaaa…

        Like

      2. Hai Rico,
        Hahahah iyaaa akibat kangen makanan indonesia, makasih bangeeet udah dibantuin pindahannya waktu itu yah ..

        Kapan nih kita ketemu lagi ?

        Cheers
        Tyas – arya

        Like

  2. Meaningful post..
    Anyway, nyinggung soal climatechange, aku pernah kok ikut lomba karya tulis yg di adakan mentri lingkungan hidup thn 2009 ttg solusi global warming.
    However, masih byk belajar dn memperbaiki diri lah..
    Semangat buat penulis! ^_^ semoga lancar studinya..

    Like

    1. Halo,

      Terima kasih banyak sudah mampir dan membaca tulisan saya.

      Memang Isu climate change bukan issue individual lagi, skg isu ini sudah jadi isu dunia. Jadi, baik sekali kamu sudah sangat aware dan mengikuti lomba karya tulis dengan topik climate change/global warming.

      salut dan sukses selalu untuk kamu! 🙂

      Cheers
      Tyas

      Like

  3. Saran, kalau mo sekolah di luar negeri, sebaiknya lulus SMA kuliah dulu aja di Indonesia. Setelah selesai kuliah di Indonesia baru sekolah lagi di luar negeri. Diharapkan kan kalau sesudah kuliah di Indonesia umur udah nambah, niat juga lebih kuat tergantung apa yang mau di pelajari di luar negeri. Jangan sampai memilih mata kuliah yg nanti nya di Indonesia seret di pakenya. Jangan sampai nanti pulang ke Indonesia lagi beeeengooooooong aja liat sekitar, tempat gue di mana ya ?

    Like

    1. Dear Risda,

      Terima kasih sudah mampir ke blog kami dan atas komentarnya.

      Betul sekali. Sebelum kuliah ke luar negeri memang sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu jangka panjangnya, termasuk jurusan yang mau diambil dan setelah kuliah mau ngapain..

      Jangan sampai sudah kuliah ke luar negeri, mahal dan berjuang banget ujung2nya hire sebagai fresh grad s1 dan bukan di bidang kuliahnya yah 🙂

      Cheers
      tyas-arya

      Like

      1. Bener sekali. Karena di negara kita ijazah ijazah dari luar negeri kadang di liat sebelah mata aja. Kalau jaman dulu katanya kuliah kedokteran di luar negeri kalau balik ke Indonesia supaya di akui harus kuliah lagi misalnya di kedokteran UI. Mungkin sekarang udah berubah kali. Namun tetep kalau melanjutkan study keluar sebaiknya kuliah dulu aja di Indonesia. Sebab negara kita ini unik banget. Pokoknya gak pernah ada aja di negara lain. Masa kuliah di Indonesia suatu gemblengan yang luar biasa, antara lain, interkasi social, ilmu pendidikannnya sendiri (rules of the game yg di pake), trick trik dosen, juga inspirasi dari dunia politik di mata mahasiswa, serta baaaaanyak lagi yang lain lain. Nah … nanti begitu selesai dan lulus S1 misalnya, diharapkan wawasan sudah lebih mantap. Imbaratnya kuda kuda udah lebih kuat…..baru deh rock and roll ke luar negeri. Nanti kalau balik adaptasinya cepat.

        Like

      2. Dear Risda,

        saya sangat setuju dengan mba Risda.
        mungkin bisa dibilang masa s1 saya lebih berat ketimbang masa s2 saya, hanya saja s2 ini berbeda lingkungan, bahasa dan budaya (serta dituntut sangat mandiri karena biaya hidup yang mahal) jadi terasa berjuangnya daripada waktu kuliah s1.

        sebenernya lebih baik lagi kalau setelah lulus s1 bisa dapat kesempatan bekerja terlebih dahulu, jadi bisa menambah wawasan dunia kerja dan memantapkan niat sekolah di luar negeri..

        jadi setelah di gembleng dan di plonco sama dunia pendidikan di Indonesia (yang kalau di kampus saya, dosennya seenak jidat masuk/ngga dan ngajarnya enak2an dia) dan dunia kerja, perjuangan s2 di luar negeri insyaAllah lebih ringan ya..

        cheers
        Tyas

        Like

      3. Salam kenal Tyas dan Arya. Bagus sekali artikelnya. Kebetulan sedang searching2 untuk anak tentang pengalaman dari orang2yang pernah kuliah di luar negri. Sangat membantu dan bermanfaat. Ijin share ya. Salam.

        Like

      4. hi Juliana,

        terima kasih sudah mampir. kami ikut senang kalau artikel yang kami tulis bermanfaat untuk pembaca.

        good luck ya!
        Tyas

        Like

      1. Mantap kalau S1 Bandung mah atuh. Mugi we sing caguer, baguer, sukses, lancar rejekina sareng salamet. Sing kade nya……tah eta.

        Like

  4. Super true sih sama isi tulisannya.. tambahin satu lagi, kalau sakit disini ngurusnya nggak segampang di Indo (jauh dari orang tua, tinggal sendirian, sakit, jomblo, baper ujungnya)
    Semoga lancar studi kita!

    #menujuSeptember2016kembaliketanahair

    Like

    1. Dear Ina,

      Terima kasih sudah mampir ke blog kami.

      Betul sekali, kemarin waktu nulis juga sempet kepikiran apalagi aku sering banget sakit gara2 masuk angin kedinginan haha.
      Kalau di belanda, mau sakit apapun, selama kamu bisa jalan, ambulance ga akan datang walaupun kamu telepon
      Dan kalau sakit, ga bisa langsung ke rumah sakit tapi harus bikin janji dulu dengan dokternya untuk pemeriksaN.. Mungkin bisa untuk case darurat.

      Apalagi kalau tinggal sendiri kan repot yah..
      Aamin! Semoga lancarr dan segera kembali ke tanah air yah Ina 🙂

      Cheers,
      Tyas-Arya

      Like

  5. keren banget ulasannya,
    pengen banget kuliah di luar negri, dari alasan 1-7, alasan yg ke 7 yg betul2 ngak bisa ke jawab.
    emang betul ya, kalau lulusan s2 luar negri akan susah banget cari kerjaan selain jadi dosen??
    mohon pencerahannya,
    Terima Kasih.

    Like

    1. Halo Ilham,

      Terima kasih sudah mampir ke blog kami.
      Sebaiknya sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang master, ada baiknya ilham memikirkan masa depan secara matang dulu. Apakah rencana masa depan kamu membutuhkan s2? S3? Atau s1 saja cukup? Atau malah bukan s2 yang dicari tapi pengalaman kerja? Karena s2 tidak sama dengan pengalaman kerja.

      Pengalaman sebelumnya beberapa teman lulusan s2 luar negeri juga mengalami kesulitan apply kerja karena di Indonesia kurang menghargai lulusan master tanpa pengalaman kerja. Sehingga insentif yang ditawarkan untuk seorang lulusan master sama saja dengan lulusan fresh graduate s1 dalam negeri. Tentunya kamu gamau dong dihargai sama seperti anak lulusan s1?
      Beda cerita kalau kamu kerja misalnya di tempat kami di Belanda, lulusan master sudah ada minimum wagenya dan hire sebagai profesional.

      Pilihan menlanjutkan studi s2 keluar negeri sangat baik, karena sangat membuka wawasan kamu. Tapi apakah perlu? Pertanyaannya disitu.:)

      Semoga menjawab pertanyaan kamu ya.

      Cheers,
      Tyas

      Like

  6. Hii ka,
    ulasannya keren banget. jadi bahan pertimbangan juga sih. sebenarnya pingin ambil kuliah di luar negeri. tapi, dari penjabarna 7 faktor di atas itu semua yang ada di kepala ku. aku mikirin banget.
    btw, mau nanya dong ka. kalau kita udah ambil S1 di Indo dan misal mau ambil beasiswa diluar negeri untuk s1 juga tpi di jurusan yang berbeda ga bisa ya ka ? hehehe. sorry aku ga begitu faham soal ini 🙂

    tapi, thanks ya Artikelnya ngebantu banget

    Like

    1. hi Kim!

      terima kasih sudah mampir ke tulisanku ya. hehehe. setau aku kalau kamu mau ambil S1 lagi diluar neger gapapa sih, hanya saja biasanya beasiswa tidak memperbolehkan hal itu. biasanya kalau kamu sudah punya gelar S1, beasiswa yang tersedia adalah untuk S2.

      goodluck yah!

      Tyas

      Like

  7. Hai, thanks untuk sharing-nya!

    Sebetulnya, saya sempet galau ingin lanjut studi di luar atau di Indonesia. Akhirnya, saya putuskan mantap studi di Indonesia, karena banyak hal termasuk lingkungan geografis sama living cost yang udah akrab banget sama saya. Meski demikian, makasih udah kasih pertimbangan soal “kamu yakin bisa lulus 2 tahun dengan uang negara?” Soalnya, saya sendiri mau ambil beasiswa dalam negeri. Agak senang karena yang punya fear itu ternyata banyak penerima beasiswa, dan masing-masing berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk membangun Indonesia.

    Saya juga ngekek soal Indonesia yang sering “manja” banget kalo ngomongin isu global, apa aja. Wakakak. 😂

    Like

    1. Hi Gaby,

      terima kasih ya sudah mampir ke blog kami. Iya, kami sendiri mengalami banyak rintangan selama kuliah di luar negeri, walaupun kami sudah kuliah di Belanda yang notabene ga susah cari makanan Indonesia dan cari teman orang Indonesia. ga kebayang deh, temen2 yang kuliah di negara2 scandinavia misalnya. hehehe.

      jadi kuliah di luar negeri meman harus dipikirkan secara matang, karena ga seindah wujud luarnya – apalagi foto2 kalau pas liburan ya hehehehe

      Goodluck untuk kuliahmu ya!
      Tyas

      Like

  8. Makasih untuk ulasannya. Saya boleh tahu ga dulunya penulis sekolah di universitas apa, jurusan apa? Dan apa yang terjadi diwaktu kita tidak menyelesaikan pendidikan kita tepat waktu? Apakah denda, atau deportasi paksa? Dan apa tips untuk bisa memenuhi skor toefl?
    Terimakasih jika sudi menjawab.. 😊

    Like

    1. Halo Friska,
      terima kasih sudah mampir.
      Aku (Tyas) bersekolah di Delft Uunivesity of Technology, jurusan Sustainable energy technology, sementara suamiku (Arya) bersekolah di Utrecht University jurusan Physical Geography.

      Tentang pertanyaan kamu, berikut jawaban saya:
      1. Apa yang terjadi jika tidak menyelesaikan kuliah tepat waktu ?
      –> ini bergantung pada kebijakan imigrasi di masing-masing negara dan universitas. Untuk di Belanda, di tahun pertama, kamu harus menyelesaikan minimal 30 ECTS (credit ini bisa ditempuh sekitar 2 periode kuliah – dimana 1 tahun kuliah ada 4 periode). Aturan dari imigrasi Belanda, kalau kamu lulus kurang dari 30 ECTS, permit kamu untuk studi akan dicabut. dengan kata lain kamu bisa di deportasi. TAPI, bisa juga kamu meminta keringanan ke pihak universitas dengan alasan yang masuk akal -misalnya depresi, hamil, keluarga meninggal dll. selama student advisor dan faculty kamu setuju, maka kamu bisa melanjutkan sekolah (at least itu di kampus saya). Kondisi ini bisa berbeda untuk negara dan universitas lain ya

      Untuk tahun kedua, kamu juga wajib melaporkan diri untuk memperpanjang permit studi kamu. aturannya sama seperti yang aku jelaskan diatas. BIasanya, kalau tahun kedua itu bermasalah karena nilai thesis kamu belum masuk sehingga credit ECTS yang kamu peroleh ga sampai 30 ECTS dalam satu tahun. Untuk kasus ini, kamu cuma perlu rekomendasi dari supervisor thesis untuk extend permit studi kamu.

      2. TIPS untuk skor TOEFL?
      –> Jujur aku dan suamiku belum pernah tes TOEFL. Kami berdua menggunakan IELTS untuk memenuhi requirements kampus kami. Mohon maaf, aku belum bisa kasih tips dan trik untuk TOEFL. Kalau kamu mau ambil IELTS, aku tuliskan tips dan trik untuk memperoleh skor IELTS di link ini:

      https://herandhisjourney.wordpress.com/2016/07/11/ielts-writing/

      semoga menjawab pertanyaanmu ya,

      Salam,
      Tyas

      Like

  9. Thanks sharingnya..
    Ini saya berencana mau kuliah di luar negri (german), skrg saya SMA 2, udah ngambil les bahasa tapi ya gitu.. Jadwal nabrak.
    Ada banyak kegiatan” yang menurut saya penting jadi nda keambil soalnya ada les bahasa. Saya mau banget ngelanjutin studi ke luar apalagi saya rencana mau masuk automotive engineering yg di german terkenal bagus banget. Tapi kalo jadwal skrg padat banget dan bikin nilai menurun, apakah worth it dan kan susah ya masuk ke univ luar negri (?)
    Dan keluarga saya ekonominya nda kaya, sederhana lah. Udah ngambil les bahasa, ada les mafia dll itu kan biayanya banyak banget, rasanya nda enak gitu sama ortu apalagi kalo ga ketrima ke sana (jangankan beasiswa, masuk ke sana tanpa bea aja pasti susah).
    Jadi kan daripada punya jadwal padet yg saya pun belum tentu bisa ketrima di luar negri yang bisa buat nilai nurun dan nguras uang juga, gimana kalo mendingan nda jadi univ ke luar? (ini cuma pendapat saya dengan dilema yg skrg saya hadapi)
    Perlu pencerahan gitu sama masukkan”

    Like

    1. hi Eric,

      aku dan suamiku lulusan dalam negeri untuk sekolah S1 kami. untuk sekolah S2 kami, kami mendapatkan beasiswa dan selama persiapan keberangkatan untuk S2, saya menggunakan tabungan pribadi saya yang didapatkan dari hasil pekerjaan saya, sehingga tidak menyusahkan orang tua.
      mungkin, kami bukan orang yang tepat untuk memberikan jawaban atas pertanyaan kamu.
      tapi, yang bisa saya bilang, sekolah di luar negeri itu butuh banyak pertimbangan. ga cuma soal biaya, tapi juga culture shock (bahasa/budaya/iklim cuaca dll).
      yang pasti kalau kamubpunya mimpi, kamu harus kejar mimpi itu sampai dapat,. kalau gagal, pelajari kegalalannya apa, lalu coba lagi! karena saya pun dapat beasiswa ini setelah 2 kali mencoba. bahkan ada beberapa orang yang saya tau harus mencoba berkali2 dan berbagai macam beasiswa untuk bisa sekolahdi luar negeri.
      so kamu jangan cepat menyerah, apalagi sebelum mencobanya.

      cheers
      tyas-arya

      Like

  10. Thank you banget kakk ulasannya.. Awalnya aku bersemangat banget buat kuliah ke luar negri, alasannya mau skalian travelling (aku malah suka culture shock, krn aku suka adventure), sekaligus nyari temen global, dengan syarat tau jurusan dan beasiswa (itu sblm baca ulasan kakak inii)

    Skrg aku bakal sibuk cari banyak sekali wawasan buat nentuin jurusan yang bakal membantu Indonesia kedepannya.. Karena itu, aku thx banget krn kakak sudah membuka wawasanku thdp climate change

    Dan gk lupa, aku bakal bljr masak masakan Indo ^^

    Like

    1. hi Yelike,

      terima kasih sudah mampir.
      semoga bisa segera melanjutkan kuliah keluar negeri yang sesuai minat kamu yah!
      betul betul belajar masak lumayan penting biar ga makan indomi terus kaya kami hheehehe

      tyas-arya

      Like

      1. Haha.. Iya nih kak. Harus bisa masak sebelum berangkat, walaupun mungkin tetap di Indonesia. Gk ada salahnya untuk belajar mandiri dahulu.

        Like

      2. Haha.. Iya nih kak. Harus bisa masak sebelum berangkat, walaupun mungkin tetap di Indonesia. Gk ada salahnya untuk belajar mandiri dahulu.

        Like

  11. Assalamualaikum kak,
    Trmksh sdh berbagi pngalamannya dan sgt menginspirasi.sy mau nanya, soal thesis klu di luar negri gmna ya kk? Apakah lbh sulit syarat lulusnya dibanding dlm negri? Misalnya hrs ada satu karya ilmiah atau paper yg dipublish.
    Trmksh kk, mf klu ada yg slh kata2nya.

    Like

    1. halo Tri Santi,

      waalaikumsalam,
      terima kasih ya sudah mampir di blog kami 🙂
      untuk thesis diluar negeri sebetulnya tidk ada syarat untuk publikasi paper ilmiah dll. tingkat kesulitan pastinya bervariasi sesuai jurusan, pembimbing dan lain lain banyak faktor yang menentukan kelulusan itu sendiri. Untuk perbandingan lulus lebih mudah di dalam atau luar negeri aku sendiri ga bisa jawab, karena aku ga pernah kuliah S2 di dalam negeri.
      tapi, yang pasti setiap thesis dan setiap orangg pasti punya kesulitannya masing-maisng.
      kalau di kampusku, penilaian thesis sudah ada form standardnya. Kamu tinggal liat aja form penilaian itu dan kerjain semaksimal mungkin untuk dapat poin tinggi di masin-masing poin penilaian di form standard.

      untuk paper, ga ada kewajiban utnuk publish. cuma, ada beberapa dosen yang setelah lulus bisa menawarkan kamu untuk menulis dan publish paper. nah itu tergantung pembimbing aja sih, ga ada kaitannya dengan kelulusan.

      semoga menjawab pertanyaanmu ya!

      tyas

      Like

  12. Assalamualaikum, Kak. Saya mahasiswa semester 4 di salah satu universitas swasta di Bandung. Baru-baru ini, saya gemar mencari informasi beasiswa-beasiswa S2 ke luar negeri. Mau tanya, Kak. Sepengetahuan kakak, apakah menjadi lulusan swasta mempengaruhi kemungkinan saya menerima beasiswa baik itu beasiswa dalam maupun luar? Terima kasih sebelumnya.

    Like

    1. waalaikumsalam Lavio, terima kasih sudah mampir.
      setau saya, di Belanda, banyak mahasiswa penerima beasiswa yang lulusan univ swasta kok. dan sepengetahuan saya, belum ada beasiswa yang mensyaratkan pndaftar beasiswa berasal HARUS dari univ negeri.

      mudah2an lancar yah kuliah semester 4 nya dan hunting beasiswanya!
      tyas

      Like

    1. halo dew,

      thanks udah mampir yah! aku dapat beasiswa LPDP. kalau untuk s1 aku kurang tahu, karena aku sendiri s1 di indonesia 🙂

      tyas

      Like

  13. Halo Kak! Terimakasih blog bermanfaatnya aku jadi lebih mikir untuk ambil beasiswa karena aku tipikal yang susah keluar dari zona nyaman. Anyway, Aku disini pengen cari buat undergraduate scholarship. Rencana pengen ambil English, tapi aku mikir lagi kira-kira prospek kedepannya gimana, apalagi aku juga nggak mungkin bakal stay disana pasti setelah S1 aku pulang :”) Gimana kak? ada saran? (:

    Like

    1. hi caca! thanks sudah mampir ke blog aku ya.
      kalau untuk prospek ke depan sebetulnya semua tergantung kamu yah. seorang teman kami lulusan sastra inggris univ negeri Indonesia dan sastra inggris S2 di UK sekarang bekerja menjadi penulis dan di international organization based di Jakarta. tapi, tentu masing-masing orang punya bakat dan ketertarikan yang berbeda.

      mungkin bisa jadi diplomat salah satunya ? 🙂

      sukses terus untuk kamu ya!
      tyas

      Like

    1. Halo,
      Terima kasih sudah mampir.
      Mungkin bisa di cek dulu mau ke negara apa ya, misalnya di Perancis kamu gak butuh bahasa inggris. Biasanya kuliah di sorbonne bahasa pengantarnya bahasa perancis.

      Untuk yang berbahasa inggris, mungkin kamu bisa cek syarat minimal IELTS masing2 universitas. Kalau kamu bisa mencapai syarat minimal itu, insyaAllah bisa bertahan.

      Semoga menjawab ya!
      Tyas

      Like

Leave a Reply to caca Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.