Hiking Journal: Gunung Kerinci

Gunung Kerinci, adalah sebuah singgasana megah bagi para pendaki yang menginginkan sebuah petualangan dan cerita yang tak terlupakan. Dengan ketinggian 3805 mdpl, Gunung Kerinci merupakan gunung vulkanik tertinggi di Indonesia. Untuk menuju gunung, dibutuhkan waktu sekitar 12-14 jam dari kota Jambi.

Dari kota Jambi, pendaki bisa menyewa elf (bila mendaki dalam jumlah banyak) dengan harga 2,3 juta untuk perjalanan pulang – pergi dengan kapasitas elf untuk 12 orang, atau bila berangkat per seorangan akan dikenakan biaya 120.000 / orang sekali jalan (Safa Marwah dengan tujuan Sungai Penuh). Perjalanan dari kota Jambi ke Sungai Penuh akan ditempuh selama 10-12 Jam. Setelah sampai di Sungai Penuh, Pendaki dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot ke desa Kayu Aro dengan biaya 10.000 – 15.000 per orang. Setelah sampai di Desa Kayu Aro, petualangan gunung kerinci pun dimulai.

Informasi:

  • Basecamp: Basecamp ibu Jus / bang Levi
  • Registrasi: Rp 2.500 dan melapor ke pos pendakian
  • Waktu Perjalanan :10 – 12 Jam
  • Mata Air: Shelter 2 (agak kotor), shelter 3 (bersih)
  • Tempat Berkemah : Shelter 2, Shelter 3

 Pendakian

Basecamp – Pintu Rimba (10 – 15 menit dengan mobil)

Untuk mencapai ke pintu Rimba dari Basecamp, pendaki bisa menyewa mobil dari basecamp. Mobil ini akan mengantarkan pendaki ke pos pendakian untuk melapor dan kemudian melanjutka  perjalanan ke pintu Rimba. Jika pendaki ingin berjalan kaki, pintu rimba bisa ditempuh dengan jarak 5-6 km.

Pintu Rimba – Pos 1 (15 menit)

Pintu Rimba berada di ketinggan 1810 mdpl. Perjalanan ke pos satu masih relatif santai. Jalanan yang dilalui adalah hutan dengan vegetasi yang cukup rapat dengan jalur yang cukup datar. Di Pos satu akan ditemukan sebuah shelter dan bangku panjang untuk beristirahat.

Pos 1 – Pos 2 (20 – 30 menit)

Perjalanan dari pos 1 menuju ke pos 2 masih cukup menyenangkan, dikarenakan jalur yang dilalui masih cukup landai. Perjalanan diirngi dengan suara lutung yang bersahut-sahutan dan masih dengan vegetasi yang rapat. Pos 2 berupa tanah yang agak lapang dengan pohon kayu yang bisa digunaka sebagai tempat duduk.

Pos 2 – Pos 3 ( 90 – 120 menit )

Jalur pendakian dari pos 2 ke pos 3 mulai menanjak. Bonus pendakian (jalur datar) makin jarang ditemukan. Jalur pendakian merupakan jalur aliran air sehingga jika hujan deras, pendaki harus melawan aliran air dari atas. Pos 3 berupa shelter dengan atap yang bisa digunakan untuk beristirahat.

Pos 3 – Shelter 1 ( 120 – 150 menit )

Jalur pendakian masih menanjak. Shelter 1 berupa tanah luas tanpa shelter.

Shelter 1 – Shelter 2 (120 – 180 menit)

Perjalanan dilanjutkan dengan medan yang semakin berat. Masih dengan vegetasi yang rapat, jalur pendakian yang berupa tanah liat dan jalur air. Jika hujan turun, jalur pendakian kerinci akan menjadi licin berkali-kali lipat. Di jalur ini, Pendaki harus siap untuk memanjat akar pohon dan bebatuan. Istilah lutut bertemu dengan jidat bisa dipakai disini.  Di tengah perjalanan, pendaki bisa melihat air terjun di tengah hutan dari kejauhan, beberapa kali medan pendakian berupa terowongan yang terbentuk dari dahan-dahan pohon, sehingga pendaki harus membungkuk untuk melaluinya. Shelter 2 biasa digunakan untuk tempat berkemah. Terdapat sumber air disekitar shelter ini. Hanya saja, tempat peristirahat ini tidak cukup luas sehingga pendaki harus berebut tempat untuk mendirikan tenda, jika penuh, pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Shelter 3

Shelter 2 – Shelter 3 (45 – 60 menit, tanpa carrier)

Dari shelter 2 menuju ke shelter 3 perjalanan yang ditemput cukup sulit. Disarankan untuk tidak membawa barang bawaan (mendirikan tenda di shelter 2). Jalur pendakian sangat curam. Beberapa kali pendaki harus memanjat dan melipir di pinggiran jalur dengan berpegangan pada ranting/dahan pohon. Shelter 3 merupakan tempat terbuka yang juga bisa digunakan sebagai tempat berkemah. Vegetasi muali berubah di shelter 3.

Shelter 3 – Tugu Yudha ( 60 – 90 menit )

Dari shelter 3 menuju ke Tugu Yudha, jalur pendakian sudah mulai berubah. Jalur yang sebelumnya berupa tanah liat sekarang berubah menjadi campuran pasir, kerikil dan batu. Pendaki harus berhati-hati karena jalur pasir kerinci cukup licin dan jika salah, Pendaki bisa terjerumus ke jurang.

Tugu Yudha – Puncak ( 15 – 30 menit)

Puncak Kerinci sudah sangat dekat bila Pendaki sudah berada di Tugu Yudha – sebuah memoriam untuk Yudha, seorang siswa SMA yang hilang dan tidak ditemukan hingga saat ini. Medan pendakian relative lebih mudah dari medan sebelumnya. Karena pasir dan kerikil di puncak lebih padat.

Puncak kerinci berupa kawah aktif. Dari puncak kita bisa melihat keindahan Danau Gunung Tujuh, Danau tertinggi di Asia Tenggara, serta melihat 3 provinsi sekaligus, yaitu Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Barat.

Informasi Tambahan:

  •  Wilayah Kerinci termasuk wilayah yang sering hujan. Disarankan pendaki membawa ekstra baju/jaket untuk menjaga badan tetap kering
  •  Mulailah mendaki dari pagi hari, hujan biasa turun diatas Jam 2 siang
  • Tidak disarankan untuk mendaki/turun pada malam hari. Hal ini dikarenakan medan yang cukup sulit, licin bila hujan, serta masih banyak satwa liar seperti babi hutan, harimau dll. Pendaki yang turun sebaiknya sudah melewati Shelter 1 sebelum gelap
  • Untuk menyewa porter sebaiknya memesan terlebih dahulu, banyak penyedia jasa porter di internet. biaya porter berkisar 150-200 ribu per hari

Catatan: Pendakian dilakukan pada tanggal 2-3 Mei 2014.

4 thoughts on “Hiking Journal: Gunung Kerinci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.